Membendung Arus Kristenisasi:
[1](Upaya Antisipasi Gerakan Kristenisasi oleh Cina2 di Indonesia)
Indonesia sudah dijajah Cina. Dulu Belanda. Sekarang Cina. Sekolah2 pemurtadan Cina dirikan dimana2. Stefen Tong lakukan pemurtadan dimana2. Sekolah Madrasah Asia Tenggara di Jalan Arjuna 57 Malang adalah pusat pemurtadan. Selain menghadapi serangan sekularisme, pluralisme dan liberalisme, Indonesia juga menghadapi bahaya "Kristenisasi". Tidak bisa dinafikan bahwa umat Islam Indonesia sedang menghadapi ‘serangan akidah’ yang luar biasa.
Indonesia benar-benar mendapat ‘prioritas utama’ sebagai lahan ‘Injilisasi dunia’. Syeikh Muhammad al-Ghazali, dalam bukunya Shaihah at-Tahdzîr min Du‘ât at-Tanshîr, mengutip satu tulisan di koran ar-Râyah (Qatar) dengan judul: "مـــاذا فى إنـــدونيسيا..؟"
Artikel tersebut ditulis dalam bahasa Inggris oleh Ahmed Deedat yang dimuat dalam edisi X dalam koran al-Burhân pada tahun 1410 H/Juni 1990 M yang dikeluarkan oleh Pusat Dakwah Islam di Afrika Selatan. Artikel tersebut diterjemahkan oleh Dr. Darwisy Musthafa al-Fârr, direktur Museum Nasional di Qatar.
[2]Tulisan Ahmed Deedat di atas mengupas fenomena Kristenisasi yang terjadi di Indonesia. Salam satu pernyataan Deedat adalah, agama Katolik yang mencapai 5 milyar di Indonesia menganggap kunjungan Paulus ke Indonesia merupakan sebuah kesempatan besar untuk merayakan ‘Perkumpulan Gereja Indonesia‘ pada tanggal 31 September 1979. Dalam kesempatan itu, umat Kristen menandatangani satu kesepakatan: yang menggambarkan satu strategi yang ingin merubah Indonesia sampai tahun 2029 menjadi Kristen seluruhnya. Gerakan ini mereka sebut dengan ‘Amaliyah al-Isti'shâl (Operasi Pembasmian).
[3]Menurut Muhammad ‘Abd al-Halîm ‘Abd al-Fattâh, bukan rahasia bahwa negara terbesar berpenduduk muslim di dunia, Indonesia –190.000.000—lebih dari 90 % muslimin –sekarang ini menjadi sasaran ‘invasi Kristenisasi’....
[4]Dua pandangan di atas berasal dari luar (outsider) di atas, mengindikasikan bahwa Indonesia benar-benar dalam kondisi ‘bahaya’. Pandangan dari dalam (insider) tidak perlu disebutkan, karena sudah jelas dan konkret. Berbagai buku, koran, majalah, berita, dsb. sudah banyak yang berbicara tentang Kristenisasi. Bukankah itu merupakan bukti konkret dari gerakan Kristenisasi di sana?
Dalam bukunya Sejarah Gereja, seperti yang dikutip oleh Hussein Umar, Dr. Berkhof menggambarkan Indonesia sebagai berikut:
"Boleh kita simpulkan, bahwa Indonesia adalah suatu daerah Pekabaran Injil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit Firman Tuhan. Jumlah orang Kristen Protestan sudah 13 juta lebih, akan tetapi jangan kita lupa....di tengah-tengah 150 juta penduduk! Jadi tugas zending gereja-gereja muda di benua ini masih amat luas dan berat. Bukan saja sisa kaum kafir yang tidak seberapa banyak itu, yang perlu mendengar kabar kesukaan, tetapi juga kaum muslimin yang besar, yang merupakan benteng agama yang sukar sekali dikalahkan oleh pahlawan-pahlawan Injil. Apalagi bukan saja rakyat jelata, palisan bawah, yang harus ditaklukkan untuk Kristus, tetapi juga dan terutama para pemimpin masyarakat, kaum cendikiawan, golongan atas dan tengah."
[5]Itulah Indonesia dalam deskripsi Dr. Berkhof. Ia merupakan ‘sasaran empuk’ para Evanglist (‘Penginjil’): tempat ‘berjuang’ para pahlawan Injil dalam menanamkan Injil di tengah-tengah umat Islam. Misi Kristenisasi di Indonesi bukan hanya ‘isapan jempol’ belaka. Ia sudah berjalan sejak kedatangan Belanda.
Mengutip Encyclopaedie van Nederlandsche Indie I, hal. 67, Deliar Noer mencatat, sebagai pihak yang ingin berkuasa di Indonesia, ada dua pandangan yang dapat diungkapkan untuk melestarikan kekuasaan kolonial. Pertama, adalah "asosiasi", yakni bagaimana mengembangkan kebudayaan barat sehingga diterima sebagai kebudayaan rakyat Indonesia, walaupun tanpa mengesampingkan kebudayaan lokal sendiri. Tujuannya adalah untuk mengikat "jajahan itu lebih erat pada penjajah dengan menyediakan bagi penduduk jajahan itu manfaat-manfaat yang terkandung dalam kebudayaan asal (penduduk)".
Pandangan ini dipromosikan oleh Hurgronje, yang melalui karangannya, Nederland en de Islam, mengatakan, "Pemecahan masalah yang sebenarnya dan satu-satunya yang merupakan pemecahan tentang masalah Islam itu terletak pada asosiasi Islam (yang terdapat dalam jajahan Belanda) dengan orang-orang Belanda." Menurut Hurgronje, pada akhirnya, politik asosiasi itu akan memudahkan kerjaan misi Kristen.
Kedua, adalah "Kristenisasi", yakni bagaimana mengubah agama penduduk, yang Islam maupun yang bukan Islam, menjadi Kristen. Misi (Kristen) itu sendiri berpendapat bahwa bila pandangan pertama (asosiasi) tadi dapat dipenuhi, maka mereka sendiri pun "akan lebih dapat mengusahakan agar mereka lebih diterima penduduk yang dari segi kebudayaan itu telah berasimilasi". Sebaliknya, pertukaran agama penduduk menjadi Kristen, menguntungkan tanah air (negeri) Belanda pula oleh karena penduduk pribumi, yang mengenal eratnya hubungan agama dengan pemerintahan, setelah masuk Kristen akan menjadi warga-warga loyal lahir batin bagi kompeni, sebutan yang diberikan kepada administrasi Belanda itu.
[6]Masyarakat Misi Belanda (Dutch Mission Society) yang berdiri tahun 1847 memprioritaskan kerja missionaris ke Indonesia, karena negara yang masyarakatnya sangat bersahabat itu terbukti sulit "ditembus" misi Kristen. Faktor Islam dituding sebagai penyebab kesulitan masuknya misi Injil ke Indonesia. Hendrik Kraemer, seorang missionaris yang ditugaskan Masyarkat Al Kitab Belanda (Dutch Biblical Society) untuk bekerja di Indonesia tahun 1921, menggambarkan kesulitan mengkristenkan kaum muslim, melalui ungkapannya:
"Islam sebagai masalah misi: tidak ada agama yang untuk (mengkonversi)-nya misi harus membanting tulang dengan hasil yang minimal, dan untuk menghadapinya misi harus mengais-ngaiskan jemarinya hingga berdarah dan terluka, selain Islam. (Dia lanjutkan lagi) Yang menjadi dari Islam adalah: meskipun sebagai agama kandungannya sangat dangkal dan miskin, Islam melampaui semua agama di dunia dalam hal kekuasaan yang dimiliki, yang dengan itu agama tersebut mencengkeram erat semua yang memeluknya."
Samuel M. Zwemmer dalam bukunya The Law of Apostasy in Islam, memandang bahwa alasan terpenting sulitnya mengkonversi seorang muslim menjadi Kristen adalah adanya hukum murtad (riddah). Islam, katanya, adalah "seperti sebuah jebakan yang licik, mempermudah siapa saja yang masuk ke dalam persaudaraan kaum muslim, dan sangat sulit bagi siapa saja yang sudah menyatakan memeluknya untuk menemukan jalan keluar."
[7]Oleh sebab itu, upaya pengkristenan itu dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) memasukkan orang ke agama Kristen, dan (2) mengeluarkan orang Islam dari agamanya, walaupun dia menjadi atheis. ‘‘Tujuan kita tidak langsung mengkristenkan umat Islam, karena hal ini tidak akan sanggup kita laksanakan. Tetapi tujuan kita adalah menjauhkan kaum muslimin dari ajaran Islam. Ini yang harus kita capai walaupun mereka tidak bergabung dengan kita,’’ kata Zwemmer.
[8]Pusat2 seperti gereja2 Cina adalah basis pemurtadan yang kuat. Pusat di Jakarta adalah gereja2 Mangga Besar dengan Sekolah Amanat Agung di Greenvile. Ini partner Sekolah SAAT di Malang yang dipimpin Daniel Lucas Lukito. Ini kepanjangan tangan dari Stephen Tong (Jakarta). Sayap Cina2 ini menjangkau seluruh Indonesia.
Pesan Paulus untuk Kristenisasi Dunia
Paus John Paul II, merupakan Paulus yang cukup benci terhadap Islam. Dalam sebuah imbauan bertajuk: "POPE CALLS ON CATHOLICS TO SPREAD CHRISTIANITY", ia mengeluarkan fatwa gerejani agar kaum Katolik mengambil tindakan untuk menyerbarkan ajaran Katolik. Ia menegaskan pentingnya melakukan Kristenisasi terhadap semua bagian dunia (to evangelise in all parts of the world), termasuk negeri-negeri dimana hukum Islam melarang perpindahan agama.
Sri Paus menekankan agar negeri-negeri Islam, demikian juga negara-negara lainnya, segera mencabut peraturan-peraturan yang melarang orang Islam memeluk agama lain. Tanpa menyebut nama negara secara langsung, Sri Paus menyinggung negara-negara di kawasan Timur Tengah, Afrika dan Asia dimana para missionaris ditolak kehadirannya. Kepada mereka Paus menyerukan: "Bukalah pintu untuk Kristus!" (Open the doors to Christ!).
[9]Paulus beralasan bahwa gereja Katolik merupakan satu-satunya yang dapat memimpin seluruh bangsa. Hal ini ia sampaikan dalam sebuah imbauan Rasuli-nya yang berjudul ‘Tuhan Yesus’ yang dikeluarkan pada 6 Agustus 2000 ia menyatakan: "Universalitas Yesus merupakan sebuah kemestian dan hanya Gereja Katolik yang dapat memimpin seluruh bangsa."
[10]Oleh karena itu, dalam imbauan keenamnya untuk para uskup Perancis pada tanggal 7 Februari 2004, dia menyatakan: "Merupakan satu kewajiban bagi setiap jemaah keuskupan untuk melakukan misi Kristenisasi dengan Injil dan dengan berbagai rutinitas ritual dalam melayaninya – Kristenisasi."
[11]Peran politik yang dimainkan oleh Paus John Palulus II merupakan rahasia umum. Tidak seorangpun yang tidak mengetahui hal ini. Bahkan sebagian orang menggambarkannya sebagai ‘politik khusus Gereja Katolik’ yang perangkatnya adalah ‘‘Taktik Rasuli’’ yang diringkas oleh Paus dalam satu kata singkat: ‘La Reevangelisation du Monde’, (‘Rekristenisansi Dunia’). Inilah yang dia proklamirkan pada tahun 1982 di Camp Steel, di kota Shant Jacob, di Barat Laut Spanyol.
[12]Metode Kristenisasi, Harus Diwaspadai!
Bahaya yang sedang ‘merongrong’ umat Islam – di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia –memang masalah murtad ini. Berbagai aksi dan operasi Kristenisasi dilakukan di mana-mana. Umat Kristen sangat berambisi untuk ‘menyebarkan Injil’ kepada umat Islam. Umat Islam menurut mereka adalah ‘domba-domba yang hilang dan tersesat’, maka ia harus dicari dan dikembalikan kepada ‘kandangnya’: Kristen. Sehingga, untuk menangkap para ‘domba tersesat’ itu, mereka menggunakan dan menghalalkan segala cara. Prinsip mereka adalah al-ghâyah tubarrir al-wasîlah. Hemat penulis, umat Islam harus waspada dengan cara-cara Kristenisasi, agar tidak ‘terjebak’ dan ‘tertipu’. Sekarang, cara-cara mereka sangat ‘canggih dan berbahaya’. Mereka tidak lagi menggunakan iming-iming ‘satu bungkus Supermie atau satu kilo beras plus ikan asin dan minyak goreng’. Tidak! Cara mereka sekarang semakin canggih. Di bawah ini, penulis hanya memaparkan beberapa contoh secara ringkas dan sederhana. Diantara metode Kristenisasi itu adalah sebagai berikut:
1. Membangun Berbagai Proyek Kristenisasi;
Di Indonesia sendiri, proyek Kristenisasi sejak lama sudah berjalan secara diam-diam, seperti Yayasan Doulos. Lama-kelamaan, kedok yayasan yang bergerak dalam aksi Kristenisasi ini pun terbongkar. Karena penduduk merasa resah dengan aktivitasnya, akhirnya diserbu dan dihancurkan.
[13]Pada tataran dunia, organisasi Kristenisasi Dunia memiliki satu proyek yang disebut dengan Joshua Project 2000.
Joshua Project 2000
[14] ini ditenggarai sebagai induk dari Doulos Project 2000, umat Islam wajib mewaspadainya. Doulos 2000 Project = 10 Missionary Project =
· The Jericho 2000 Project – West Java
· The Karapan 2000 (Race 2000) Project – East Java
· The Mandau 2000 Project – West Borneo
· The Bajau-Bungku 2000 Project – South East Celebes
· The Cendrawasih 200 (Bird of Paradise) Project– West New Guinea
· The Andalas 2000 Project – North Sumatra
· The Sriwijaya 2000 Project – Riau, Sumatera
· The Construction Project for House of Worship in the rural areas
· The Provision of Bibles Project –in the tribal language
· The Charity Activities Project.
[15]Berbagai proyek Kristenisasi di atas sudah banyak menampakkan hasil, seperti di Jawa Barat dan Padang.
[16] Dengan demikian, proyek-proyek ini harus mendapat concern khusus dari para da‘i. Apalagi di pulau Sumatera ada dua proyek besar: The Andalas 2000 Project dan The Sriwijaya 2000 Project.
2. Mengobrak-abrik Kandungan Al-Qur’ân;
Cara ini sangat ampuh digunakan oleh para missionaris dan evangelist (penginjil). Hatta, di negara Arab sendiri, yang nota-bene berbahasa Arab, mereka menggunakan cara ini.
[17] Kasus terakhir adalah apa yang dilakukan oleh Dr. Anis Shorrosh lewat Al-Qur’ân ‘palsunya’, The True Furqan (al-Furqân al-Haqq).
[18] Itu dari segi pembuatan Al-Qur’ân. Dari sisi yang lain, berbagai bentuk ‘penyelewengan’ ayat-ayat Al-Qur’ân dan penafsirannya banyak juga dilakukan oleh umat Kristen. Saat ini, termasuk di Indonesia, istilah-istilah Al-Qur’ân dan teologi Islam sudah mulai disinkronkan dengan istilah-istilah Kristen, seperti Kalimah Allâh (‘Firman Allah’), Rûh Allâh (‘Roh Allah’)
[19], tajassud, dsb. Tetapi, tujuan mereka adalah untuk mendukung ketuhanan Yesus Kristus. Menurut mereka, Al-Qur’ân sendiri menyebut Kristus Kalimah Allâh, Firman Allah dan ‘Roh-Nya’ (rûhun minhu). Tentu saja itu benar. Tetapi, konsep Kalimah (Firman) dalam Islam, berbeda dengan konsep Kristen. Dalam Islam, Kristus tercipta lewat Kalimah (Firman) Allah, ‘kun’, untuk menggambarkan satu kebesaran dan kekuasaan Allah. Juga, kata rûh dalam Islam, artinya: Yesus tercipta dari roh yang berasal dari Allah Swt. yang ditiupkan oleh malaikat Jibril ke dalam rahim Maryam.
[20]Upaya merusak kandungan Al-Qur’ân memang sudah lama dilakukan. Sebelumnya sudah dikenal nama Hamran Ambrie. Lewat bukunya "Allah Sudah Pilih Saya" ia berusaha menyelewengkan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’ân untuk mendukung dogma Kristen. Sebagai contoh, dalam bukunya tersebut, halaman 3 baris 9 dari atas mengatakan:
"Qul ya ahlal kitabi lastum ‘ala syai-in hatta tuqiemut taurate wal injil wa ma unzila ilaikum min rabbikum"
"Katakanlah! Hai Ahli Kitab, kamu tidak pada agama yang sebenarnya, kecuali apabila kamu turuti Turat dan Injil, dan apa yang diturunkan kepadamu daripada Tuhamu!"
Ayat ini, bukanlah untuk pertam kali itu saya baca, melainkan sudah ratusan kali. Tetapi pada kali terakhir itu, Allah telah membisikkan dalam roh –jiwa saya, bahwa yang dimaksud Taurat dan Injil dalam Qur'an itu, adalah Taurat-Injil yang ada terdapat dalam Alkitab atau Bibel sekarang.
[21]Proyek Amran Hambrie – setelah dia wafat – diteruskan kembali oleh para pengikutnya, seperti pendeta Rivai Burhanuddin dan yang lainnya. Pendeta Rivai Burhanuddin, dari gereja Advent dalam bukunya ‘Persahabatan Ummat Allah’ juga memutarbalikkan ayat-ayat Al-Qur’ân. Contohnya, dalam bukunya tersebut, halaman I, dia menyatakan:
"......kitab Perjanjian Baru membuktikan kebenaran kitab Perjanjian Lama dan Quran membuktikan kebenaran kitab Perjanjian Lama dan kitab Perjanjian Baru itu."
[22]Beberapa tahun terakhir juga muncul buku terjemahan Robert A. Morey yang mencoba mengacak-acak Al-Qur’ân. Lewat bukunya The Islamic Invasion
[23] (Islam Yang Dihujat), Morey menulis tentang ‘Al-Qur’ân dan Kekerasan’. Ia menyatakan:
"Jangan sampai ada yang heran jika mengetahui agama Islam tidak saja mengesahkan dan mengabsahkan tindak kekerasan akan tetapi justru dalam keadaan tertentu malah memerintahkan tindak kekerasaan. Di dalam Al-Quran, Qs 9:5 kaum muslimin diperintahkan sebagai berikut:
"Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Dan apa yang harus dilakukan oleh kaum muslimin terhadap orang-orang yang menolak agama Islam? Kitab Al-Quran menyebutkan dalam QS 5:33 yang menyatakan:
"Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka, atau dibuang dari negeri mereka [tempat kediamannya]. Yang demikian itu [sebagai] suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akherat kelak mereka mendapat siksaan yang besar."
Di masyarakat Barat, hukuman-hukuman seperti memotong tangan dan kaki seseorang hanya gara-gara tidak mau menerima agama Islam, merupakan sesuatu yang tidak dapat dimengerti sama sekali."
[24]Ungkapan Morey menunjukkan kebodohannya tentang isi Al-Qur’ân. Surat at-Tawbah yang dikutipnya jelas tidak memiliki makna seperti yang diklaimnya. Begitu juga dengan surat al-Mâidah [5]: 33. Padahal, umat Islam memiliki buku-buku tafsir yang menjelaskan tentang ayat tersebut. Khusus ayat kedua, itu berkaitan dengan ayat tentang qatl al-murtadd (hukum bunuh bagi yang keluar dari agama Islam).
[25] Dr. ‘ImâdAs-Sayyid asy-Syarbaeny menjelaskan bahwa ‘memerangi’ Allah dan Rasul-Nya itu dilakukan dengan dua cara: pertama, lewat tangan dan kedua, lewat lisan. Orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya ‘dengan lisan’ terkadang ditafsirkan sebagai orang yang memerangi dengan cara ‘memotong jalan’ –dalam merampas harat orang lain– ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunan-nya sebagai penafsiran dari sabda Nabi Saw.: at-Târiku lidînihî al-mufâriq li al-jamâ‘ah."
[26]Analogi Morey sangat ‘jauh panggang daripada api’ jika diplintir sampai ke Barat. Di Barat Islam tidak memaksa masyarakatnya untuk memeluk agama Islam. Apa yang diinginkan oleh Morey adalah merusak citra Islam. Seolah-olah Islam itu agama ‘Barbar’, hobi membunuh dan menyiksa orang.
Kedok ajaran palsu begini dijalankan di sekolah2 teologi Reformed oleh Stephen Tong. Juga ajaran pemurtandan Daniel Lucas Lukito lewan STT Amanat Agung dan STT SAAT jl Arjuna 57 Malang. Jaringan Cina ini teramat kuat. Daniel Lucas adalah pelopor pemurtadan besar2an ini.
3. Hipnotis dan Penyembuhan.
Modus operandi Kristenisasi lewat ‘hipnotis’ mungkin cara yang paling keji –di samping Germil dan pelaksanaan rutinitas ritual umat Islam
[27]–, yang dilakukan oleh para penginjil dan missionaris. Ternyata, cara seperti ini telah dicanangkan sejak Konferensi Colorado, Amerika Serikat pada tahun 1987.
[28]Cara keji seperti ini ditujukan kepada para wanita Muslimah, agar mereka memeluk agama Kristen. Fenomena ini sekarang bukan hal yang aneh alias asing. Berbagai peristiwa menjadi bukti bahwa cara keji ini benar-benar dipraktekan secara nyata. Di Indonesia, tidak sedikit wanita Muslimah yang –tiba-tiba– kesurupan, sampai menyebut-nyebut nama ‘Yesus Kristus’. Padahal, itu merupakan kesengajaan yang dibuat oleh para Pendeta, Penginjil dan aktivis Kristenisasi untuk mengelabui umat Islam. Ketika itu terjadi, mereka menawarkan ‘terapi lewat nama Yesus’. "Jika dia ingin sembuh, dia harus menyebut nama Yesus, mengakui Yesus sebagai Tuhan." Karena, menurut para penginjil yang melakukan hal tersebut, Yesus mampu mengusir ‘roh jahat’.
[29] Padahal itu merupakan tipu muslihat mereka. Itu merupakan cara mereka, agar umat Islam mengakui ‘ketuhanan Kristus’.
Fenomena yang lain, adalah apa yang dikenal dengan ‘Penyembuhan Atas Nama Yesus’. Fenomena ini sempat terjadi di beberapa daerah, seperti Jakarta dan Bandung.
Pengaruh pengobatan dengan cara demikian ternyata memiliki pengaruh yang sangat besar sekali. Sehingga, menurut Dr. Sanihu Munir, apapun yang dikatakan oleh Pastor, Pendeta dan penginjil seakan-akan semuanya bisa terjadi. Kegiatan penyembuhan ini merupakan salah satu otoritas Gereja yang berusaha untuk tetap dipertahankan, walaupun lama-kelamaan kebohongannya makin terungkap.
Ada dua faktor yang nampaknya sulit bagi Gereja saat ini untuk mempertahankan peranannya sebagai pemegang otoritas penyembuhan atas nama Yesus:
1) Penemuan Bakteri, virus dan jamur serta senyawa kimia/fisik sebagai penyebab penyakit membuat orang sadar bahwa penyakit-penyakit seperti malaria, kusta, dan keracunan kimia bukan urusan para Pastor, Pendeta ataupun penginjil untuk disembuhkan atas nama Yesus. Apalagi orang-orang yang buta karena penyakit kusta atau lumpuh karena penyakit polio. Walaupun disebut-sebut nama Yesus 7 hari 7 malam, mereka yang buta tidak akan melihat dan orang yang lumpuh tersebut tidak akan dapat berjalan. Bidang ini merupakan otoritas para dokter, dimana para Pastor, Pendeta dan penginjil tidak punya peran. Namun bagi orang-orang yang masih berpikir primitif, yang masih percaya kepada tahayul, masih mudah terpengaruh propaganda mereka.
2) Para ahli kedokteran jiwa sejak lama sudah mengungkapkan adanya hubungan antara jiwa seseorang dengan fisiknya. Dalam ilmu kedokteran dikenal istilah Psychophysiologic Disorder, yang oleh James C. Coleman, James N. Butcher dan Robert C. Carson, dalam buku merekai "Abnormal Psychology and Modern Life, 1984, didefinisikan sebagai "physical disorder in which psychological factors play major causative role". (Penyakit fisik, dimana faktor-faktor kejiwaan berperan sebagai penyebab utamanya.
Perananan kejiwaaan ini selanjutnya dijelaskan:
"An emotional upset may lower resistance to physical disease...the overall life situatuion of an individual has much to do with the onset of a disorder, it forms, duration and prognosis"
(Perasaan yang kalut dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit....situasi kehidupan seseorang secara keseluruhan sangat berkaitan erat dengan kejadian, jenis, lamanya maupun berkembangnya suatu penyakit).
Bagaimana langkah-langkah terjadinya penyakit fisik akibat gangguan psikologi diambarkan sebagai berikut:
a. Timbulnya kekalutan perasaan sebagai dampak dari situasi stres yang berlarut-larut;
b. Ketidakmampuan menanggulangi kekalutan perasaan ini;
c. Respon berbagai sistem orang tubuh terhadap gangguan perasaan yang berakibat rusaknya organ-organ tubuh tertentu, atau secara umum merobah dan melemahkan sistem pertahanan tubuh.
[30]Sudah dapat dipastikan bahwa penyakit kejiwaan seperti itu, tidak membutuhkan nama Yesus. Bahkan, penyakit seperti itu dapat disembuhkan sendiri oleh otak si penderita berkata kesabaran hati dan kesediaannya bekerjasama untuk sembuh. Proses penyembuhan seperti ini dijelaskan oleh Mark R. Rosenzweig dan Arnold L. Leiman dalam buku mereka Physicological Psychology, halaman 6-7:
"Various regins of the brain do indeed contain naturally produced chemical that are now called endorphine, short of "endogenous morphine". Such compounds can relieve pain and in some case the are more effective than morphine."
(Di berbagai lokasi dalam otak ternyata mengandung zat kimia yang dihasilkan secara alami yang saat ini disebut endorphine, singkatan dari "endogenous morphine". Senyawa ini dapat menghilangkan rasa sakit dan dalam beberapa hal jauh leibh kuat dari morphin).
[31]Ternyata para Pendeta, Pastor dan penginjil itu menipu masyarakat untuk melancarkan misi mereka.
Demikian pemaparan singkat seputar misi Kristenisasi ini, khususnya di Indonesia. Tentunya, pemaparan pemakalan masih sangat sederhana sekali. Sehingga masih membutuhkan tindak lanjut, agar lebih maksimal dan mendalam.
Arus Kristenisasi akan ‘semakin besar’ dan semakin membuat dakwah Islam di Tanah Air semakin berat. Bukan hanya Indonesia, dunia Islam secara keseluruhan sedangn menghadapi fenomena yang sama: Kristenisasi. Sebut saja, misalnya, Afrika, Sudan, Teluk (Gulf), dan yang lainnya.
Hemat penulis, umat Islam, khususnya di Indonesia, dapat membendung arus Kristenisasi ini lewat dua cara. Pertama, memperdalam ilmu-ilmu keislaman, terutama Tauhid, Al-Qur’ân, ‘Ulûm Al-Qur’ân dan dan tafsirnya, hadits dan ‘Ulûm al-Hadîts, dan Sirah Nabawiyah. Kedua, mempelajari kristologi secara intens dan mendalam, meskipun ia bukan fardhu ‘ain. Karena tidak dapat dipungkiri, pengetahuan terhadap dogma dan doktrin agama lain –khususnya Yahudi-Kristen–, dapat memberikan nilai plus bagi keyakinan agama sendiri. Karena, kebobrokan dan ketidakbenaran agama Yahudi-Kristen, hanya dapat diungkap secara komprehensif lewat kristologi. Selain itu, mendalami Kristologi, berarti umat Islam telah ‘mewarisi’ khazanah keilmuan para da‘i dan ulama salaf kita.
[32] Wallâhu a‘lamu bi as-shawâb.
*) Qosim Nursheha Dzulhadi adalah peminat Quranic Studies and Christology.
[1] Disampaikan dalam Dialog Publik ‘‘Pengaruh Dakwah Islam dan Gejolak Kristenisasi di Pulau Sumatera’’, di Auditorium Shalih Abdullah Kamil, Cairo, pada hari Ahad, 9 April 2006.
[2] Syeikh Muhammad al-Ghazali, Shaihah at-Tahdzîr min Du‘ât at-Tanshîr, (Damaskus: Dâr al-Qalam, cet. I, 2000), hlm. 129.
[3] Ibid., hlm. 130.
[4] Muhammad ‘Abd al-Halîm ‘Abd al-Fattâh, Kalâmun fî al-Mamnû‘: al-Ikhtirâq al-Yahûdî li al-Vâtikân (Mosad – Vatikan – wa Tanshîr al-‘Âlam), Malaff Qâtim wa Taqârîr Saudâ', tanpa nama penerbit, cet. I, 2005), hlm. 159. Padahal, prosentasi yang sesungguhnya sangat memprihatinkan. Indonesia, memang dikenal sebagai negeri muslim terbesar di dunia, dengan jumlah penduduk sekitar 210 juta jiwa. Data Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) tahun 1990 yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS) menunjukkan prosentase umat beragama di Indonesia sebagai berikut: Islam (87,2%), Kristens Protestan (6,0%), Katolik (3,6%), Hindu (1,8%), Budha (1,0%), lain-lain (0,3%). Merujuk pada prosentase itu, maka jumlah umat Islam Indonesia saat kini mencapai 183,12 jiwa. Secara formal, tentu jumlah yang sangat besar.
Tetapi, pihak Kristen membantah angka yang dikeluarkan pemerintah itu. Sebuah buku berjudul "Gereja dan Reformasi" yang diterbitkan oleh Yayasan Komunikasi Masyarakat-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (Yakoma-PGI) menyebutkan bahwa jumlah orang Kristen (Protestan) di Indonesia adalah sekitar 20 persen, malah bisa lebih. Faktor meningkatnya jumlah Kristen itu terutama karena terjadinya pembaptisan-pembaptisan massal di berbagai tempat. (Victor Silaen dkk., Gereja dan Reformasi,Yakoma-PGI, Jakarta, 1999: 31-32). Data bahwa jumlah Kristen sudah lebih dari 20% ini juga diperkuat oleh Global Evangelization Movement Database, yang menyatakan, jumlah orang Kristen di Indonesia sudah mencapai angkat spektakuler, yaitu lebih dari 40 juta jiwa. Secara internasional, jumlah umat Kristen setiap tahun meningkat 6,9%, sehingga sekarang jumlahnya sudah mencapai 2 milyar jiwa lebih. (Majalah BAHANA, September 2002). Lihat, Adian Husaini, Solusi Damai Islam Kristen di Indonesia, (Surabaya: Pustaka Da‘i, cet. I, 2003), hlm. 30-31.
[5] Adian Husaini, ibid., hlm. 5.
[6] Ibid., hlm. 106.
[7] Ibid., hlm. 106-107. Hal ini mengindikasikan Zwemmer tidak memahami akidah Islam. Konsepsi akidah dalam Islam sangat kokoh dan tegas. Islam memang tidak ‘mudah‘ memberikan jalan bagi pemeluknya untuk keluar (murtad). Tetapi, Islam tidak serta-merta melaksanakan hukum bunuh (al-qatl) bagi para murtaddin. Karena yang berhak dibunuh adalah mereka yang meninggalkan jama‘ah (mufâriq li al-jamâ‘ah) sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits Ibnu Mas‘ud, Lâ yahillu damu imri'in muslimin yasyhadu ‘An lâ Ilâha ilâ Allâhu‘ wa ‘annî Rasûl Allâhi‘ illâ biihday tsalâtsin: an-nafsi bi an-nafsi, wa at-tsyayyibi az-zânî, wa at-târik li dînihî, al-mufâriq li al-jamâ‘ah." (HR. Jamâ‘ah). Konsep ini memang –terutama akhir-akhir ini—ingin dirusak oleh mereka yang di luar Islam dan Islam sendiri, seperti Islam Liberal. Mereka mengusung konsep ‘Pluralisme Agama‘ untuk memberi kebebasan kepada masing-masing orang memeluk agama apa saja yang mereka sukai. Bambang Noorsena, misalnya, menganggap ‘hukum bunuh‘ bagi murtaddin sebagai tindakan yang menyalahi tindakan Rasulullah Saw. Sayangnya, dia salah memberikan analogi. Dia bertanya, ‘Apakah tindakan ini cocok dengan sikap Nabi Muhammad sendiri terhadap ahl ad-dimmiy?‘. Bambang Noorsena –menyimpulakn seperti itu—karena melihat satu kasus yang terjadi di Pakistan, yang disebut dengan Qanun-i Shahadat (Hukum Pembuktian) tahun 1984: "Kesaksian seorang Kristen tidak diterima untuk menghukum orang Muslim, dan pembunuhan atas orang dzimmiy (kaum non-Muslim yang dilindungi pemerintah Islam) tidak boleh dibalas setimpal dengan hukuman mati, sebagaimana kasus yang sama yang terjadi atas diri seorang Muslim." (Bambang Noorsena, Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam, (Yogyakarta: Yayasan ANDI, cet. I, 2001), hlm. 92. Tentu saja kesimpulan Bambang tidak benar. Ini membuktikan dia tidak paham akan akidah Islam, terutama yang berhubungan dengan ‘sanksi murtad‘ (‘uqûbah ar-riddah). Isu yang terjadi di Pakistan adalah ‘kasus‘ tidak jelas tidak sejalan dengan ajaran Nabi Saw. Namun demikian, adalah keliru jika menyimpulkan bahwa tidak ada hukum yang tegas dari Nabi Saw. dalam masalah ar-riddah.
Bagi kaum Liberal, kebebasan beragama adalah hak setiap orang. Ironinya, yang selalu dimunculkan adalah hadits, ‘Man baddala dînahû faqtulûhu‘ (Hadits Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan oleh Jamâ‘ah, kecuali Imam Muslim). Hadits yang sama juga diriwayatkan dari Abu Hurairah dalam at-Thabrani dengan isnâd hasan, dan dari Mu‘âwiyah ibn Haydah dengan isnâd para rijalnya yang tsiqât. (Dikeluarkan oleh al-Haytsamî dalam Majma‘ az-Zawâ'id: 6/261). Lihat, Dr. Yusuf al-Qaradhawi, Jarîmah ar-Riddah wa ‘Uqûbah al-Murtadd fî Dhau' Al-Qur’ân wa as-Sunnah, dalam serial Rasâ'il Tarsyîd as-Shahwah (6), (Cairo: Maktabah Wahbah, cet. 1996), hlm. 48. Sehingga, kaum liberal ‘menuduh‘ hadits tersebut tidak relevan lagi, atau tidak kontekstual, tanpa melihat konsep ar-riddah dalam Islam dengan teliti. Mereka tidak melihat bahwa dalam Islam ada proses pemberian kesempatan untuk taubat bagi si murtad (istitâbah). Lebih jelas tentang hukum ar-riddah ini dapat dilihat: Dr. ‘Imâd as-Sayyid asy-Syarbaeny, ‘Uqûbatâ az-Zânî wa al-Murtadd fî Dhau' Al-Qur’ân wa as-Sunnah, (‘Agouzah-Mesir: Maktabah al-Imân, cet. I, 2005).
[8] Adian Husaini, op. cit., hlm. 99. Samuel Zwemmer memamang ‘missionaris dan dalang Kristenisasi terkenal di dunia Islam’. Ia merupakan salah seorang yang aktif melakukan kajian tentang agama Islam, guna merusak isi Al-Qur’ân dan ajaran Islam. Salah satu caranya adalah dengan mendirikan Jurnal Muslim World. Jurnal ini didirikan olehanya pada abad ke-20, hingga kini masih bertahan. Zwemmer juga menulis sebuah buku berjudul Islam: A Challange to Faith (terbit pertama kali tahun 1907). Di sini, Zwemmer memberikan resep untuk ‘‘menaklukkan’’ dunia Islam. Zwemmer menyebut bukunya sebagai ‘‘Studies on the Mohammedan religion and the needs and apportunities of the Mohammedan World from the Standpoint of Christian Missions’’. Dalam bukunya ini, Zwemmer menulis, unsur-unsur yang dipinjam oleh Islam dari berbagai agama dan tradisi sebelumnya, seperti Sabeanism, Arabian Idolatry, Zoroastrianism, Buddhism, Judaism, and Christianity, menurut Zwemmer adalah konsep puasa Ramadhan, cerita tentang Ashâbu al-Kahfi, Luqmân, Iskandar Zulkarnaen dan sebagainya. Tetnang Al-Qur’ân ini, Zwemmer menyatakan: (1) penuh dengan kesalahan sejarah; (2) banyak mengandung cerita fiktif yang tidak normal; (3) mengajarkan hal salah tentang kosmogoni; (4) mengabadikan perbudakan, poligami, perceraian, inteloransi keberagamaan, pengasingan dan degradasi wanita. Di akhir penjelasannya tentang Al-Qur’ân, Zwemmer mencatat, ‘‘In this respect the Koran is inferior to the sacred books of ancient Egypt, India, and China, thoug, unlike them, it is monotheistic. It can not be compared with the Old or the New Testament.’’ Lihat, Adian Husaini, Studi Awal Keragaman Teks Bibel, dalam Jurnal Al-Insan, (Depok-Indonesia: Lembaga Kajian dan Pengembangan Al-Insan (Kelompok Penerbit Gema Insani), Vol. I, No. I, Januari 2005), hlm. 115.
[9] Ibid., hlm. 5-6. Dokumen ini merupakan surat edaran pertama sejak tahun 1959 yang ditujukan untuk kegiatan missionaris dan yang menekankan pandangan yang demikian keras bahwa penyebaran ajaran Kristen merupakan satu diantara tugas terpenting setiap pemeluk ajaran Katolik. Surat edaran berjudul "Redemtori Missio" atau judul Inggrisnya "The Churches Missionary Mandate" (Mandat Missionaris Gereja) ini, merupakan surat edaran ke-8 yang telah dikeluarkan oleh Paus John Paulus II. Ibid.
[10] Prof. Dr. Zainab ‘Abd al-‘Aziz, Tanshîr al-‘Âlam: Munâqasyât li Khithâb Paus John Paulus II ‘Raw‘at al-Haqîqah’, dalam serial Shalîbiyah al-Gharb wa Hadhâratuhû (5), (Damaskus-Cairo: Dâr al-Kitâb al-‘Arabî, cet. I, 2004), hlm. 7.
[11] Ibid., hlm. 7-8.
[12] Prof. Dr. Zainab ‘Abd al-‘Aziz, al-Vâtikân wa al-Islâm, dalam serial Fadhâ'ih al-Hadhârah al-Gharbiyah (2), (Cairo: al-Quds li an-Nasyr wa al-I‘lân, cet. II, 2001), hlm. 19.
[13] Yayasan Doulos yang berada di Cipyung itu diserbu dan dihancurkan oleh kaum muslim pada tanggal 16 Desember 1999. Yayasan ini merupakan organisasi missionaris Kristen yang bertujuan memurtadkan 160 juta kaum muslim Indonesia. Adian Husaini, op. cit., hlm. 98.
[14] Tentang Proyek Joshua ini, Luis Bush (Direktur Internasional untuk AD2000 and Beyond Movement) memuat satu tulisan di
http://www.missionfrontiers.org/1995/1112/nd953.htm dengan judul: What is Joshua Project 2000? Tulisan yang sangat panjang ini mengulasi misi penginjilan di seluruh penjuru dunia. Umat Islam sangat perlu mencermati gerakan Kristenisasi ini.
[15] Tentang penjelasn proyek-proyek Kristenisasi tersebut, dapat juga dilihat dalam http://www.geocities.com/nur_zayani/iskris.html
[16] Untuk laporan tentang Kristenisasi, juga dapat dilihat dalam berita yang diturunkan oleh
www.eramuslim (23 September 2004) lewat tajuk ‘Misi Pemurtadan Yang Makin Berani’.
[17] Tahun 2004 yang lalu, seorang profesor ‘Teologi ad-Difâ‘ ‘an al-Imân’, Dr. Dawud Riyadh Arsânius menulis buku berjudul Mâ Hiya Hatmiyah Kaffârah al-Masîh? Buku ini banyak mengutip ayat-ayat Al-Qur’ân secara tendensius, untuk mendukung dogma Kristen. Contohnya, pada bab III, halaman 45, dia menyatakan tentang ‘Dalil-dalil Naqli’ tentang kematian Kristus. Ia mengutip ayat Al-Qur’ân dari surat al-Mâ’idah [5]: ‘Wa idz takhluqu min at-thîni kahay’ati at-thayr’. Dia tidak memuat kata ‘bi idzni Allâhi’. Sudah barang tentu ini salah fatal. Dia ingin menyatakan bahwa Yesus benar-benar ‘Tuhan’, yang mampu menciptakan burung dari tanah liat. Buku tersebut dibantah oleh Dr. Muhammad ‘Imarah lewat bukunya Munâqasyât Hâdifah: Radd al-Azhar ‘alâ Mâ Hiya Hatmiyah Kaffârah al-Masîh? Wa Taqrîr ‘an Arba‘i Rasâ’ila Jildiyah li Rasûl Allâhi (shallâ Allâhu ‘alayhi wa Sallama) yang dijadikan sebagai haidah majalah Al-Azhar pada bulan Rabiul Awwal 1426.
[18] Sebelum muncul The True Furqan, beberapa surat palsu sudah beredar, seperti surat Al-Wasaya, Al-Muslimun, Al-Tajassud, dan Al-Iman. Keempat surat tersebut sudah tersebar luas di kalangan umat Islam pada tahun 1999. Surat-surat batil tersebut pertama kali ditemukan di
www.americaonline.com. Setelah itu, muncullah The True Furqan dalam bahasa Arab (‘‘al-Furqân al-Haqq’’) yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris di percetakan Wise Press, dengan ukuran 15 sm, 366 halaman dan memuat 77 surat. Penjelasan dan bantahan atas ‘Al-Qur’ân batil’ tersebut dapat dilihat dalam buku Al-Qur’ân wa al-Furqân al-Amrîkî: Dirâsah Naqdiyah limâ Yusammâ al-Furqân al-Amrîkî (terbitan Cairo: al-Hawârî li at-Turâts, 2005, pengantar dan tahqîq: Muhammad al-Hawârî) karya Sâlim Abu al-Futûh. Bahkan, dalam
www.suralikeit.com beberapa surat pertama di atas sudah ada yang memiliki penafsiran.
[19] Penjelasan lebih lanjut tentang konsep Kalimah Allâh dan Ruh Allah dapat dilihat dalam Dr. Muhammad M. Abu Laylah, The Quran and The Gospels: A Comparative Study, (Cairo: Al-Falah for Translation, Publication & Distributin, cet. III, 2005).
[20] Umat Kristen tidak mau menerima penafsiran umat Islam yang seperti ini. Mereka malah menyatakan bahwa Kristus adalah tuhan. Di Indonesia, banyak sekali upaya seperti itu, seperti Bambang Noorsena. Pendiri KOS (Kristen Orthodoks Syiria) yang tidak mau disebut pendeta ini banyak sekali membuat tulisan yang menggunakan referensi turats Islam. Menyangkut penafsiran umat Islam tentang terman Kalimah Allah dan Roh Allah, Bambang – setelah mengutip surat Ali ‘Imrân: 39 dan 45 beserta penafsirannya – menyatakan, " Jadi, meskipun kristologi gereja yang menekankan bahwa Yesus adalah Firman Allah terdengar menggema dalam ayat-ayat al-Qur?an di atas, tetapi Islam tidak turut serta merta memindahkan makna teologisnya sebagaimana yang dipahami iman Kristen. Ungkapan 'bi kalimatin minhu' (dengan Firman dari-Nya), dalam sejumlah tafsir al-Qur'an tidak dipahami sebagai Firman kekal yang bersifat ghayr al-makhluq (bukan ciptaan), melainkan sebagai kalam takwiniyyah (kata penciptaan kun, 'Jadilah'). Meskipun demikian, berbeda dengan makhluk lainnya, ‘Isa diciptakan melalui Firman Allah secara langsung seperti Allah juga menciptakan Adam. Meskipun teologi Islam tidak ragu-ragu menolak keilahian Yesus, tetapi pada abad-abad kemudian gema dari perdebatan gereja mengenai kekal atau tidaknya Firman Allah itu dipentaskan kembali, dan diterapkan untuk memahami al-Qur?an sebagai Kalam Allah. Karena penekanan bahwa makhluk atau tidaknya Kalam Allah tersebut, maka selanjutnya teologi Islam lebih dikenal sebagai Ilmu Kalam, sebagaimana dikatakan oleh Syekh Muhammad ‘Abduh:
"Wa qad yusama ‘ilm al-kalami, anna lianna asyhara mas'alatin wa qa‘a fiha al-khilaafu baina ‘ulama'I al-quruni al-ula, hiya ‘anna kalam allah almatluwwa haditsu aw qadiim. Artinya: ‘Kadang-kadang disebut ilmu Kalam karena masalah yang paling masyhur dan banyak menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama-ulama Islam pada abad-abad pertama Hijrah, yaitu mengenai apakah Kalam Allah yang dibaca itu baru ataukah qadim (kekal). (Lihat tulisannya yang dimuat di
www.iscs.or.id (7 Maret 2006) dengan judul ‘Sosok Yesus di mata santri Jawa: Selayang Pandang Mengenal Kitab Kuning’. Kutipannya tentang penamaan Ilmu Kalam Islam dari Syeikh Muhammad ‘Abduh juga ‘tidak jujur’ dan ‘tendensius’. Dalam bukunya Rislâlah at-Tawhîd – yang juga dikutip oleh Bambang – ‘Abduh tidak hanya menyebutkan satu sebab penamaan teologi dalam Islam dengan ‘Ilmu Kalam’, melainkan tiga sebab. Secara lengkap Syeikh Muhammad ‘Abduh menyatakan, "Wa qad yusamma ‘ilma al-kalam, immaa li'anna asyhara mas'alatin waqa‘a fiha al-khilâfu bayna ‘ulamâ' al-qurûn al-ûlâ hiya anna Kalâma Allâhi al-matluww hâditsun aw qadîmun; wa imma li'anna mabnâhu al-dalîl al-‘aqliy wa atsarahu yazharu min kulli mutakallimin fî kalâmihî. Wa qallamâ yarji‘u fîhi ilâ al-naql; allâhumma illâ ba‘da taqrîri al-ushûl al-awlâ, tsumma al-intiqâl minhâ ilâ mâ huwa asybaha bi al-far‘i ‘anhâ, wa inkâna ashlan limâ ya'thiy ba‘dahâ; wa immâ li'annahû fî bayâni thuruq al-istidlâl ‘alâ Ushûl al-dîn asybahu bi'l-mathiq fî tanbhîhi masâliki al-hujjah fî ‘ulûm ahl al-nazhar, wa abdala al-mathiq bi al-kalâm li al-tafriqah baynahuma." Lihat, Syeikh Muhammad ‘Abduh, Risâlah at-Tawhîd, (Beirut-Lebanon: Dâr Ibnu Hazm, cet. I, 2001), hlm. 63. Dalam bukunya Menuju Dialog Teologis Kristen Islam, misalnya, dia menulis tentang konsep ‘Nur Muhammad’ dalam Tasawur Islam dikomparasikan dengan konsep ‘Isa sebagai Terang Dunia’. Menurutnya, ‘Meskipun Muhammad telah ada sebelum penciptaan alam, tetap saja ia sebagai makhlûq (diciptakan). Berbeda dengan Yesus, ia sudah ada sebelum diciptakan (pra-eksistensi). Karena dia merupakan firman Allah yang kekal’. Lihat bukunya, Menujuk Dialog Teologis Kristen Islam, hlm. 61-68. Ia juga mengutip hadits Qudsi – padahal bukan hadits Qudsi – yang berbunyi, ‘Kuntu kanzan makhfiyan fa ahbabtu an u‘rafa fakhalaqtu al-khalqa fa bihi ‘arafuny (Aku adalah perbendaharaan terpendam. Aku rindu untuk dikenal, maka Kuciptakan dunia supaya Aku dikenal). Lihat, Menuju Dialog Teologis Kristen Islam, hlm. 66. Hadits yang menurutnya hadits Qudsi tersebut dia kutip dari buku Ahmad Daudi Allah dan Manusia dalam Konsepsi Syeikh Nuruddin ar-Raniry, hlm. 97. Tanpa telaah yang serius dan kritis, Bambang langsung menyimpulkan bahwa itu ‘hadits Qudsi’. Tentu saja ini sangat berbahaya bagi orang awam. Padahal, itu bukan hadits Qudsi, melainkan perkataan Sufiyah. Lihat, Dr. Muhammad ibn Muhammad Abu Syuhbah, al-Wadh‘u fî al-Hadîts, (Cairo: Maktabah al-`Ilm, cet. I, 2003), hlm. 15. Hadits yang senada dengan itu adalah, ‘Kuntu kanzan lâ u‘rafu! Fa'ahbabtu an u‘rafa fakhalaqtu khalqan fa‘araftuhum bî fabiyya ‘arafûnî’. Menurut Ibnu Taimiyah dalam Majmû‘ al-Fatâwâ: 18/122 dan setelahnya, seperti dikutip oleh Mahmoud ibn al-Jamîl, menyatakan: "Ini bukan perkatan Nabi Saw. Aku tidak tahu isnâd-nya baik shahîh maupun dha‘îf. Lihat, Mahmoud ibn al-Jamîl, Shahîh al-Ahâdîts al-Qudsiyah, (Cairo: Maktabah as-Shafâf, cet. I, 2001), hlm. 12. Untuk penjelasan prose penciptaan Adam dan Yesus – yang disebut dalam Al-Qur’ân ‘‘kamatsali Âdama’’ dapat dilihat dalam buku ‘The Story of Jesus, The Prophet of Peace & Uphon him be Peace (at-Tarjamah al-Injlîziyah li Mukhtashar Kitâb ‘Inna Matsali ‘Isa ‘inda Allâhi Kamatsali Âdama, min Âyah 59 min sûrah Âli ‘Imrân) karyaDr. Hassan Ezz Deen Al Gamal. Sayang sekali, buku ini tidak memiliki nama penerbit dan tahun terbit.
[21] Lihat, KH. Abdullah Wasi‘an, 100 Jawaban untuk Missionaris: Kristen Ataukah Islam?, (Surabaya: Pustaka Da‘i, cet. III, 2002), hlm. 25. Pernyataanya tersebut dibantah oleh KH. Abdullah Wasi‘an. Menurut beliau: "Turat dan Injil yang tersebut dalam surat al-Maidah 68 itu, bukanlah Taurat dan Injil yang terdapat dalam Alkitab (Bibel) sekarang ini, yang isinya: Perjanjian Lama terdiri dari 39 kitab, dan Perjanjian Baru yang berisi 27 buah, terdiri dari 4 Injil, 1 Kisah rasul, 14 surat kiriman Paulus, 1 surat kiriman Yakub, 2 surat kiriman Petrus, 3 surat kiriman Yohanes, 1 surat kiriman Yuda dan 1 kitab Wahyu. Yang dimaksud Taurat dan Injil pada ayat Alqur'an tersebut adalah firman Allah yang dibawa oleh malaikat Jibril dan disampaikan kepada Musa dan Yesus (nabi Isa as), berdasarkan keterangan dalam kitab Ulangan 33: 2. Ibid., hlm. 25-26.
[22] Statemennya tersebut dibantah oleh Ischaq A. Razak dengan mengutip Qs. Al-Baqarah [2]: 106 tentang ayat naskh. Menurut beliau, ‘‘Penuturan Al-Qur’ân tersebut di atas, sama sekali bukanlah merupakan isapan jempol belaka. Kita dapat menemukan kebenaran sinyalemennya paa kitab Perjanjian Lama. Marilah kita mengambil satu contoh saja, yaitu ayat 11 dan 15 dari kitab Kejadian seperti berikut ini:
"Maka kuadakan perjanjianKu dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusanhakn bumi." (Kejadian 9: 11)
"Aku akan mengingat perjanjianKu yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah." (Kejadian 9: 15).
Saudar pendeta Burhanuddin!!, memang untuk beberapa ribu tahun ayat-ayat Perjanjian Lama itu dapat menentramkan kalbu –perasaan manusia– dari amukan air bah, tetap ketika anak manusia Yesus ibnu Maryam diutus menjadi nabi untuk Bani Israil, ternyata telah menghapuskan kesaksian ayat-ayat Perjanjian Lama itu seperti kata beliau:
"Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu, makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak akan tahu sesuatu sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan anak manusia." (Matius 24: 37-39). Lihat, Ischaq A. Razak, Pendeta Berpendapat Ulama Meralat, (Surabaya: Pustaka Dai‘i, cet. I (edisi II), 2002), hlm. 54, 55-56.
[23] Buku ini pada mulanya berjudul Islam Unveiled, terbit pertama kali tahun 1946 dan kemudian diedit dan direvisi kembali dengan judul The Islamic Invasion dan diterbitkan pada tahun 1992 yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul The Islamic Invasion (ISLAM YANG DIHUJAT). Lihat, Robert A. Morey, The Islamic Invasion (Islam Yang Dihuhat), terjemah: Sadu Suud, (Bekasi-Indonesia: C.V. FOCUS ISLAMEDIA, cet. II, 2005), hlm. 12, dalam pengantar penerbit.
[24] Ibid., hlm. 233-235. Buku terjemahan ini sangat bagus sekali, karena penerjemahnya, Sadu Suud, memberikan ‘Catatan Pinggir’ yang sangat baik sekali. Dalam ‘catatannya’ tersebut, Sadu membongkar isi Bibel, menyangkut beberapa hal: (1) Yesus, (2) Paulus, (3) dan Alkitab. Selain itu, kata pengantarnya sangat bagus diberikan oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra MA. dan Hamid Famhy Zarkasyi, M. Phil. (Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Kuala Lumpur, Malaysia. Selain buku ini, Hj. Irena Handoni, dkk. juga telah memberikan counter yang sangat baik lewat buku ‘Islam Dihujat: Menjawab Buku The Islamic Invasion’, (Kudus: Bima Rodheta, 2004).
[25] Imam as-Suyûthî (849 H-911 H) menjelaskan bahwa bahwa Ibnu Jarir mengeluarkan –riwayat– dari Yazid ibn Abi Habîb bahwa ‘Abd al-Malik ibn Marwan menulis surat kepada Anas untuk menanyakan tentang ayat: ‘‘Innamâ jazâ’ulladzîn yuhâribûna Allâha wa Rasûlahû’’. Lalu Anas membalas suratnya dan memberitahukan bahwa ayat tersebut turun atas orang-orang ‘Iraniyin yang murtad dari Islam dan membunuh seorang gembala (ar-râ‘î) lalu mereka mengambil ontanya. (Hadits). Kemudian, Ibnu Jarir juga mengeluarkan riwayat semisalnya dari Jarir, dan ‘Abd ar-Razzâq mengeluarkan –dalam Mushannaf-nya: 10/107)– riwayat yang semisalnya dari Abu Hurairah. Lihat, Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûl, (Cairo: Maktabah al-Imân, cet. I, 2003), hlm. 115.
[26] Dari Ibnu Mas‘ud secara marfû‘: ‘Lâ yahillu damu Muslimin yasyhadu an lâ ilâha illâ Allâhu wa annî Rasûl Allâhi, illâ biihday tsalâtsin, at-tsayyibi az-zânî, wa an-nafsi bi an-nafsi, wa at-târiki lidînihî al-mufâriqi li al-jamâ‘ah." Dikeluarkan oleh Imam Muslim dengan syarh Imam an-Nawawi, kitâb al-Qasâmah, bâb ‘Mâ yubâhu bihî dam al-muslimi: 6/179, no: 1686 dan Imam Bukhari dengan syarh Fath al-Bârî, kitâb ad-Diyât, bâb qaulihî ta‘âlâ ‘inna an-nafsa bi an-nafsi’: 12/209, no: 6878. Lihat lebih lanjut, Dr. ‘Imâd as-Sayyid asy-Syarbaeny, ‘Uqûbatâ az-Zânî wa al-Murtadd fî Dhau' Al-Qur’ân wa as-Sunnah, (‘Aghouzah-Mesir: Maktabah al-Imân, cet. I, 2005), hlm. 109-110.
[27] Di Indonesia sekarang sudah ada gerakan Kristenisasi lewat gerakan yang disebut dengan Tilâwat al-Injîl. Bahkan, Institu Teolologi Kalimatullah, yang dipimpin oleh pendeta Lengkong, dalam acara resminya – seperti – wisuda para kadernya membacakan Injil dalam bahasa Arab, sambil ditartilkan layaknya umat Islam membaca Al-Qur’ân. Bagi umat Islam yang berada di kawasan negara Timur Tengah, misalnya, tidak akan terkejut mendengar saudara mereka yang beragama Kristen membacakan Injil mereka dalam bahasa Arab, karena bahasa agama mereka juga. Tetapi, jika fenomena tersebut muncul di Indonesia, kesannya akan menjadi lain. Meskipun demikian, penulis belum menemukan seorang Kristen di Mesir ini yang membaca Al-Qur’ân sambil ‘dilagukan’ seperti yang terjadi di Indonesia, selain acara resmi keagamaan mereka. Kehadiran KOS (Kristen Ortodoks Syiria) di Indonesia juga membuar resah umat Islam. Aliran Kristen yang dipelopori oleh Bambang Noorsena ini ternyata cukup aktif dalam melakukan kajian tentang Islam. Salah satu klaim mereka adalah, ‘Shalat Kami Tujuh Waktu’ dan ‘Injil Kami Berbahasa Arab, jadi kami juga bisa membaca Al-Qur’ân.’’
[28] Menurut Dr. Muhammad Imarah, mayoritas peserta konferensi Colorado itu adalah para pemimpin Zionis. Buku hasil konferensi tersebut berjudul The Gospel and Islam. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul ‘at-Tanshîr: Khuththah li Ghazwi al-‘Âlam al-Islâmî, yang mencapai 1.000 halaman. Lihat, Dr. Muhammad Imarah, Istirâtîjiyah at-Tanshîr fî al-‘Âlam al-Islâmî: Dirâsah fî A‘mâl Mu'tamar Colorado li Tanshîr al-Muslimîn aw Brûtukûlât Qasâwisah at-Tanshîr, dalam serial Buhûts at-Tsaqâfah wa al-Hadhârah (3), (Malta: Markaz Dirâsât al-‘Âlam al-Islâmî/Islamic World Studues Centre, cet. I, 1992), hlm.44. Tentang pengiriman ‘roh jahat’, anggota konferensi Colorado telah menyepakatinya sebagai satu metode Kristenisasi. Mereka menghindar dari – apa yang mereka sebut – Islam Al-Qur’ân dan Islam Sunnah. Sasaran mereka adalah ‘Islam sihir, Islam Ifrit, Islam roh jahat, yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan orang yang benar-benar mengerti akan ajaran Islam. Untuk model Islam terakhir ini, mereka mengambil contoh negara Indonesia. Para missionaris telah memanfaatkan – sebagaimana yang dikatakan oleh protokolat Colorado itu – toleransi "Soekarno" (13-19 – 1390 H/1901 – 1970 M) – presiden Indonesia – secara resmi dan pribadi. Mereka akhirnya menterjemahkan Injil ke dalam berbagai bahasa daerah yang ada di Indonesia. Para missionaris mampu membuat ‘‘satu negara’’ di dalam masyarakat Indonesia. Mereka mengakui keberhasilan Kristenisasi di Indonesia di daerah-daerah yang tidak Islami, dan para pengikut yang disebut dengan ‘Islam Kejawen’: yang cenderung malukan sinkretisme berbagai keyakinan, sebagai pengganti dari Islam yang lurus. Bahkan 63% yang menjadi Kristen adalah umat Islam KTP (hanya nama saja) dan yang memiliki latarbelakang ‘Jawa Animisme’. Ibid., hlm. 102 dan 103.
[29] Satu bulan yang lalu, penulis sempat ngobrol dengan teman dari Medan yang akhwatnya tiba-tiba kesurupan dan menyebut-nyebut nama Yesus. Anehnya, ketika di-ruqyah, dia sembuh. Tapi, ketika sang ustadz yang me-ruqyah tersebut pulang, dia kembali menyebut-nyebut nama Yesus Kristus. Benar-benar keji!!!
[30] Dr. H. Sanihu Munir, SKM, MPH., Menyelamatkan Juru Selamat: Mengapa Yesus Perlu Diselamatkan dan Mengungkap Kebohongan Penyembuhan Atas Nama Yesus, (Victory Press Surabaya Mitra Centre Kendari, cet. II, 2002), hlm. 99-101.
[31] Ibid., hlm. 102-103.
[32] Tidak dapat dipungkiri bahwa para ulama kita banyak yang memiliki concern khusus terhadap kristologi ini. Di antara mereka adalah: (1) Ibnu Hazm al-Andalusî (w. 456 H-1069 M) lewat bukunya al-Faysal fî al-Milal wa al-Ahwâ' wa an-Nihal, as-Syahrastânî (w. 548 H) lewat bukunya al-Milal wa an-Nihal, (3) Ibnu Taimiyah (661-728 H) lewat bukunya al-Jawâb as-Shahîh liman Baddala Dîn al-Masîh, (4) Ibnu Qayyim al-Jauziyah – murid Ibnu Taimiyah – (7 Shafar, 691 H/1292 M – 13 Rajab 751 H/1350 M) lewat bukunya Hidâyah al-Hiyârâ fî Ajwibah al-Yahûdi wa an-Nashârâ, (5) Hujjah al-Islâm Abu Hâmid al-Ghazali (w. 505 H/1111 M) lewat bukunya ar-Radd al-Jamîl li Ulûhiyah ‘Isâ bi Sharîh al-Injîl, (6) ‘Allâmah al-Hindi lewat bukunya Izhâr al-Haqq, (7) Syeikh Muhammad al-Ghazali lewat bukunya Shaihah at-Tahdzîr min Du‘at at-Tanshîr, dan (8) Ahmed Deedat (w. 2005) lewat berbagai tulisannya, kemudian sebagian besar beliau kumpulkan dalam bukunya The Choice: Islam and Christianity. Semoga mereka semua mendapat rahmat dan ampunan Allah ta‘ala, amin!