ISLAM KRISTEN

Sunday, September 10, 2006

LABEL ISLAM ISI PEMURTADAN

Dengan label dan moto Islam yang disandangnya, secara rutin majalah Syir’ah menanamkan propaganda pemurtadan dan mempromosikan berbagai aktivitas dan gerakan Kelompok Liberal berkedok Islam. Radio 68H milik JIL hampir tidak pernah absen dari iklan di back cover Syir’ah.

Pentolan Jaringan Intelektual Muda Muham­madiyah (JIMM) yang pernah menghiasi cover depan Syir’ah adalah Ahmad Fuad Fanani. Pada edisi nomor 37, wajah Fuad Fanani tampil bareng bersama-sama dengan para liberalis lainnya, antara lain: Ahmad Baso, Yeny Wahid, Musdah Mulia –yang menggebrak umat Islam dengan KHI yang dinilai menyesatkan oleh mayoritas umat Islam– dan lain-lain.

Arah pijakan majalah yang didanai oleh founding Amerika ini, bisa ditebak dengan mudah. Bila terjadi polemik antara Islam dan Kristen, maka keber­piha­kannya tidak diarahkan kepada Islam. Bila mempubli­kasikan Yahudi dan Kristen, maka struktur dan gaya bahasanya diukir sedemikian terpuji penuh simpati. Tapi bila yang dipublikasikan itu Islam, maka gaya bahasanya sedemikian keras dan tajam menohok.

Fatwa-fatwa yang diusung oleh pengasuh rubrik Konsultasi Fiqh pun jelas mendukung perilaku murtad yang oleh Al-Qur‘an telah dikutuk dengan ancaman neraka.

Ketika memberitakan kaum Yahudi, Syir’ah menam­pilkan sisi kebaikan­nya serta-merta melupakan berbagai kejahatan dan kebiadabannya. Edisi nomor 32, Syir’ah memasang salah satu judul “Yahudi Pejuang Damai” di cover depan. Tulisan yang dimaksud adalah rubrik Mancanegara (hlm. 56-60) yang mengangkat bangsa Yahudi. Dalam rubrik itu, Yahudi disanjung sedemikian rupa dengan kalimat sinopsis: “Ulah kaum Yahudi identik dengan kekerasan. Padahal pelakunya hanya sebagian dari kelompok Zionis.”

Kalimat yang ditampilkan Syir’ah ini jelas bukan pandangan Islam, karena pernyataan tersebut bersinggungan balik dengan ayat Al-Qur‘an: “...Di antara mereka ada yang beriman dan keba­nya­kan me­reka adalah orang-orang yang fasik” (Qs. Ali Imran 110).

Un­tuk men­dukung ke­sim­pulan tulisannya bahwa Yahudi adalah pejuang damai, Syir’ah me­nam­pilkan bukti adanya 5 kelompok lintas agama yang diistilahkan oleh Syir’ah sebagai “Yahudi-yahudi berhati Mahatma Gandhi.” Menutup argumentasinya bahwa Yahudi adalah pejuang perdamaian, Syir’ah menyitir ayat Alkitab (Bibel) bagian Perjanjian Lama (Old Testament), yaitu kitab Deuteronomy 20:10-12. “Padahal, Yahudi dikenal sebagai agama yang menekankan perdamaian. Rukun ke-6 dari 10 Rukun Iman Yahudi menyebut, “Kamu tidak boleh membunuh,” tulis Syir’ah.

Kutipan ayat Bibel kitab Deuteronomy (kitab Ulangan) untuk menyatakan Yahudi sebagai pejuang (pahlawan) perdamaian, adalah bukti nyata bahwa Syir’ah sangat ceroboh dalam membaca kitab suci. Ayat yang dimaksud berbunyi demikian:

“Apabila engkau men­dekati suatu kota untuk berperang melawannya, maka haruslah engkau menawarkan perdamaian kepadanya. Apabila kota itu menerima tawaran perda­maian itu dan dibukanya pintu gerbang bagimu, maka haruslah semua orang yang terdapat di situ melakukan pekerjaan rodi bagimu dan menjadi hamba kepadamu.

Tetapi apabila kota itu tidak mau berdamai dengan engkau, melainkan meng­adakan pertempuran melawan engkau, maka haruslah engkau menge­pungnya.

Dan setelah Tuhan, Allahmu, menyerahkannya ke dalam tanganmu, maka haruslah engkau membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan mata pedang. Hanya perempuan, anak-anak, hewan dan segala yang ada di kota itu, yakni seluruh jarahan itu, boleh kau rampas bagimu sendiri, dan jarahan yang dari musuhmu ini, yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah­mu, boleh kau perguna­kan” (Ulangan 20:10-14).

Ayat ini jelas bukan mendorong perdamaian, tapi pemicu penjajahan, perbudakan dan pembunuhan terhadap negara lain yang lebih lemah. Tersebut jelas dalam ayat tersebut, bila suatu negara mau berdamai harus dijajah dengan pekerjaan rodi. Tapi jika negara tersebut tidak mau berdamai, maka harus dikepung sampai takluk. Jika negara tersebut sudah takluk, maka seluruh penduduknya yang laki-laki harus dibunuh, sedangkan wanita dan anak-anak harus dijadikan sebagai jarahan.

Perhatikan pula gaya bahasa yang dipakai Syir’ah untuk memberitakan komu­nitas Kristen. Guratan-guratan kalimatnya begitu indah penuh simpati. Dalam rubrik Mancanegara (Syir’ah No. 39, hlm. 62-64), Syir’ah meng­angkat kiprah gereja Sain­tologi di Aceh dengan tulisan berjudul “Dari Gereja, Bergerak Lintas Identitas.” Di sini Syir’ah memuji-muji kiprah Gereja Saintologi, salah satu sekte yang dianggap sebagai bidat oleh Protestan dan Katolik.

Ketika terjadi pro-kontra umat Islam dan Kristen tentang RUU Kerukunan Umat Beragama, Syir’ah malah berpihak ke kalangan Nasrani. Maka bulan Januari 2004 Syir’ah mengangkat tema utama “Kerukunan Dalam Bahaya”. Berita dan analisisnya pun jelas mendukung aspirasi umat Nasrani, dengan beberapa judul tulisan: “Urungkan RUU Kerukunan Umat Beragama” (hal. 16); “Aturan Kerukunan yang Mencakar” (hal. 18-22); “Akui yang Lima, Akui Selain yang Lima” (hal. 23-26); “Kerukunan Tak Bisa Didikte” (hal. 28-31), dan lain-lain.

Nuansa propaganda pemurtadan yang diusung majalah Syir’ah nampak mencolok pada edisi nomor 27 yang mengangkat tema “Pindah Agama Karena Hidayah.” Nampaknya, edisi ini sepenuhnya dipersem­bahkan untuk mendukung pemurtadan umat.

Dari opini redaksi (semacam rubrik editorial), sejak awal dikatakan, “Tak perlu panik karena pindah agama. Barangkali harus kita akui, orang Islam itu suka plin-plan... Kita tak perlu lagi mencemaskan seberapa besar orang keluar dari Islam. Yang kita cemaskan adalah seberapa parah Islam tak berdaya melahirkan keda­maian di masyarakat. Dan kita tak akan panik, meskipun orang berpindah-pindah agama sehari tiga kali, seperti minum obat” (hlm. 16).

Islam Diinjak-injak, Non Islam Dijunjung Tinggi


imageKalau dicermati, dari struktur dan gaya bahasanya, kalimat di atas jelas bukan ucapan orang Islam, tapi ucapan yang keluar dari mulut orang non Islam, orang kafir atau orang munafik yang mempropagandakan anti Islam.

Kalau dibandingkan dengan pilihan kata ketika menulis tentang Yahudi dan Kristen di atas, jelas sekali betapa berat dan besarnya keberpihakan dan subjektivitas Syir’ah dalam menganakemaskan Yahudi dan Kristen, serta-merta menganaktirikan Islam.

Ketika melukiskan perilaku Yahudi, kalimat yang dipakai adalah: “Yahudi Pejuang Damai,” “Yahudi-yahudi berhati Mahatma Gandhi,” “Yahudi dikenal sebagai agama yang menekankan perdamaian,” dan sebagainya. Betapa agungnya pujian Syir’ah kepada Yahudi.

Tapi, ketika melukiskan Islam dan penganutnya, kalimat yang dipakai adalah: “Harus kita akui, orang Islam itu suka plin-plan,” “seberapa parah Islam tak berdaya melahirkan kedamaian di masyarakat,” “Biasanya para pemeluk agama menghindari perilaku haram itu. Akan tetapi, fenomena ini di kalangan mahasiswa Muslim tak begitu. Sebagian dari mereka bahkan menganggap seks bebas itu sudah biasa,” dan masih banyak lagi. Masya Allah! Betapa tengiknya caci-maki majalah Syir’ah yang ditujukan untuk agama Islam dan umat Islam.

Memang, begitulah keyakinan Syir’ah. Rusak!! Orang masuk Islam dengan orang keluar Islam (murtad), sama-sama dikatakan mendapat petunjuk (hidayah) Ilahi. “Isyarat Langit Menjelang Pindah Agama. Mereka pindah agama bukan karena disogok mi instan. Baik yang “murtad” maupun yang muallaf sama-sama berangkat dari petunjuk Ilahi.” (hlm. 18).

Padahal orang yang masuk Islam itu adalah orang yang mendapat petunjuk (hidayah) Allah. Sebaliknya, Al-Qur‘an surat An-Nisa 137 secara tegas dan jelas menyebutkan orang yang murtad tidak mendapat petunjuk (hidayah) Allah (lihat rubrik Tafsir “Kata Al-Qur‘an tentang Murtad”).

Mempertegas sikapnya terhadap murtad, Syir’ah berujar, “Kita tak akan panik, meskipun orang berpindah-pindah agama sehari tiga kali, seperti minum obat.” Untuk mendukung sikapnya itu, Syir’ah menampilkan pengalaman rohani Piet Hasbullah Khaidir, mantan Ketua Umum PP IMM 2001-2003, yang kini menjadi anggota presidium Jaringan Intelektual Muda Muham­madiyah (JIMM). Diberitakan bahwa dia pindah iman sebanyak tiga kali dari Budha, Katolik bahkan Atheis. Ketika Tabligh mewawancarai, Piet membantah. “Saya sangat dirugikan betul dengan pem­beritaan itu. Karena wartawan Syir’ah tidak memahami konteks pem­bicaraan saya. Saya hanya menanggalkan “iman” sebentar untuk menyelami agama lain. Karena saya kuliah di jurusan akidah filsafat yang salah satu materinya adalah perban­dingan agama,” bantahnya.

Anehnya, sampai sekarang Piet tak mengguna­kan hak jawabnya dengan memberikan bantahan kepada Syir’ah tentang kemurtadan dirinya. Ketika Masyhud dan Abu Mumtaz dari Surabaya mewawancarai Mujtaba Hamdi, Pemimpin Redaksi Syir’ah, dengan tenang dia menjelaskan bahwa sampai sekarang kami belum pernah menerima komplain dari yang bersang­kutan. “Kalau berita kami salah, kami tunggu sang­gahan dan hak jawab Piet Haidar,” tantangnya.

Para aktivis persyarikatan Muhammadiyah berharap agar informasi Syir’ah tentang kemurtadan mantan ketua IMM ini tidak benar. Sebab berita ini sungguh mencoreng muka kader persyarikatan. “Seharusnya Piet Haidir membantah pemberitaan Syir’ah, jika berita itu salah. Ini penting, demi nama baik kita semua,” ujar seorang mubaligh Muhammadiyah dalam perbincangannya dengan Tabligh di Masjid At-Taqwa PP Muhammadiyah beberapa waktu lalu.

Terakhir, dalam rubrik Konsultasi Fiqh (Syir’ah No. 39, hlm. 84-85), Abdul Moqset Ghazali, menjawab pertanyaan tentang hukum pindah agama (murtad). Seorang ibu bertanya perihal anaknya yang berencana akan pindah agama mening­galkan Islam. Menurut pen­je­lasan penanya, anaknya yang sedang duduk di bangku kuliah itu sudah tidak betah dalam Islam karena termakan isu tero­risme akhir-akhir ini. “Bagai­mana pandangan fikih Islam menyangkut perpindahan agama ini?” tanya ibu Fatimah, pembaca Syir’ah.

Menjawab pertanyaan hukum murtad tersebut, Abdul Moqset Ghazali menge­muka­kan tiga ayat Al-Qur‘an, yaitu: surat Al-Kafirun 6 “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (lakum dinukum waliyadin), surat Al-Kahfi 29 “Barangsiapa yang ingin beriman maka berimanlah, dan barangsiapa yang ingin kafir maka kafirlah” (faman sya’a falyu’min, faman sya’a falyakfur), dan Al-Baqarah 256 “Tidak ada paksaan di dalam urusan agama” (la ikraha fid-din).

Setelah mengutip ayat tersebut, Abdul Moqset menjelaskan, “Ayat-ayat di atas cukup jelas, bahwa manusia tidak dipaksa untuk memeluk suatu agama dan keluar dari agamanya. Tuhan memberi kebebasan penuh kepada manusia untuk ber­iman atau tidak beriman, beragama Islam atau tidak. Kalau Tuhan saja tidak memaksa seluruh hamba-hamba-Nya untuk beriman kepada-Nya, maka lebih-lebih orang tua terhadap anaknya.”

Kemudian Abdul Moqset menyimpulkan, “Namun, sekiranya dia telah berketetapan hati untuk pindah ke agama lain, maka tidak ada pilihan lain kecuali bahwa Ibu Fatimah mesti mengikhlaskan kepergiannya ke agama lain itu. Sesuai dengan perintah Al-Qur`an di atas, tidak boleh ada pemaksaan menyangkut perkara agama.”

Betapa lancangnya orang yang mengaku Ustadz dari Madura ini. Dengan gegabah disimpulkan bahwa surat Al-Kafirun 6, Al-Kahfi 29 dan Al-Baqarah 256 memerintahkan umat Islam untuk meng­ikhlaskan seseorang (anak, istri, suami, ayah, ibu, saudara, kerabat dan seterusnya) jika mau murtad meninggalkan Islam.

Kesesatan fatwa kiyai pengasuh Syir’ah ini dibongkar lebih lanjut oleh Buya Risman, pengasuh Biro Konsultasi Agama MTDK PP Muhammadiyah. Menurutnya, ketiga ayat tersebut jika dibaca utuh, menjelaskan prinsip Islam bahwa pilihan agama yang benar itu adalah masuk agama Islam yang disertai dengan menjauhi kesesatan dan kekafiran. (baca rubrik Konsultasi Agama halaman 20-21).

Secara tidak langsung, anjuran Kiyai Syir’ah agar bersedia mengikhlashkan orang yang murtad ke agama lain, sama artinya dengan menyarankan agar meng­ikhlashkan orang menjadi orang kafir, sesat dan akhir­nya masuk neraka. Padahal Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendur­hakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerja­kan apa yang diperintahkan” (At-Tahrim 6).

Propaganda “Mesum” Majalah Syir’ah


Misi lain Syir’ah yang tak kalah rusaknya dengan pemurtadan adalah pen­citraburukan umat Islam dalam hal seksual. Pencitra­burukan ini semakin kurang ajar bila digeneralisir bahwa semua mahasiswa Muslim mela­kukan penyimpangan seksual.

Pada edisi nomor 30, Syir’ah mengangkat topik utama berjudul “Seks Bebas di Kampus Hijau.” Edisi ini khusus membleceti penyimpangan seksual di kampus-kampus Islam yang disoroti secara gebyah uyah (dipukul rata).

Entah apa maunya Syir’ah menampilkan berita ini? Yang jelas, berita ini bisa menim­bulkan antipati dan sinisme orang awam dan kalangan non Islam terhadap kampus berlabel “Islam.” Betapa tidak? Perhatikan saja sinop­sisnya: “Terpuruknya iman di lubang hasrat. Ajaran agama menilai seks di luar nikah sebagai perbuatan berbuah dosa. Biasanya para pemeluk agama menghindari perilaku haram itu. Akan tetapi, fenomena ini di kalangan mahasiswa Muslim tak begitu. Sebagian dari mereka bahkan menganggap seks bebas itu sudah biasa.” (hlm. 18).

Pada halaman berikutnya, kalimat yang dicapture dengan huruf besar pun semakin melecehkan pesantren: “Ihwal kebebasan seks di kalangan mahasiswa bukanlah hal aneh. Tapi cukup mengagetkan jika ternyata pelakunya banyak dari kalangan pesantren.”

Diblow up di dalamnya tentang seks bebas di kampus Islam yang dilakukan oleh para aktivis kampus Islam, aktivis Harakah Khilafah (Hizbut Tahrir?), dan alumnus pesantren. Foto ilustrasinya pun sangat mesum dan melecehkan Islam. Ada foto wanita ber­jilbab sedang tidur ber­pelukan di ranjang dengan lawan jenisnya, ada beberapa keping cover VCD porno lengkap dengan cuplikan foto bugilnya, dan seterusnya. Ada gambar setengah badan dua orang pasangan sedang ber­pelu­kan saling berpegangan pinggang selayaknya suami-istri. Seolah-olah, adegan mesum itu sangat akrab di kalangan “kampus hijau.”

Perwajahan Syir’ah yang seronok pun tak pantas me­nyandang label Islam. Dari capture foto di dalamnya, lebih tepat kalau Syir’ah dika­te­gorikan sebagai media “biru” sejajar dengan tabloid Hot, Pop, Lipstik, Lelaki, Ehm, dll.

Bayangkan saja, ketika mengangkat kontroversi film Buruan Cium Gue (BCG), dibahas polemik antara AA Gym dengan Raam Punjabi (Syir’ah edisi nomor 35).

Capturenya pun sangat seronok, adegan film BCG dicapture utuh. Ada dua pasang remaja berdiri berpelukan. Yang sepasang sebelah kiri, seorang remaja putra yang lebih tinggi dari pasangannya menempelkan kepalanya pas ke kening sang putri. Tangan yang putra memegang perut pas di bawah buah dadanya. Sang putri terlihat diam menikmati perlakuan tersebut.

Pasangan yang kedua, berdiri di sebelah kanan. Sang cewek memakai busana ketat, ketiaknya melompong, roknya di atas lutut, panjangnya setengah paha. Dia berdiri dengan wajah penuh rangsangan, menempelkan –maaf– kedua buah dadanya ke perut sang cowok. Sementara sang cowok yang berkaus hitam yang lebih tinggi, berdiri memegang lehernya dan mengarahkan pandangannya ke bawah, seolah sedang mengamati buah dada sang cewek. (hlm. 53).

Pada edisi nomor 22, Syir’ah menyajikan topik utama “Sex on TV: Bang­krutnya Petuah Halal-Haram”. Intinya, mengajak pembaca untuk pembaca untuk mengabaikan “sementara” halal-haram guna mera­maikan pembicaraan seksual.

Ilustrasinya pun jauh dari etika Islam. Pada halaman 18 ditampilkan foto relief –maaf– alat kelamin laki-laki berdiri menjulang ke atas –maaf– sedang menusuk alat kelamin wanita. Pantaskah media ini disebut majalah Islam?

Kita memang harus cerdas dan teliti dalam memilih bacaan. Memang buku adalah guru yang paling baik. Tapi jika salah baca, maka akan jadi racun bagi keselamatan iman kita. Waspadai media-media yang didanai oleh founding asing.

Uang memang bisa merubah segalanya jadi kejam. Karena uang, sahabat bisa jadi musuh, bahkan tak jarang berujung pada dendam dan pembunuhan. Gara-gara uang pula, orang memusuhi agama dan keya­kinannya, bahkan tak jarang berujung pada fitnah dan pemurtadan. (Majalah tabligh)

Wallahu musta’an.

PEMURTADAN TERJADI TERANG2AN

Sekjen MUI pusat Prof Dr Din Samsuddin meminta kepada umat Islam melalui ormas dan lembaganya mewaspadi gerakan pemurtadan korban bencana gempa bumi yang terjadi di Jateng-DIY. Ia mensinyalir, kalangan agama tertentu dengan dana cina2 dibaliknya.

"Bahkan saya melihat sendiri, ada dua tenda khusus yang menampung anak-anak balita, saya tidak tahu apakah ada motif tertentu atau tidak, tetapi kita harus waspada karena saya yakin itu bukan lembaga Islam. Saya minta seluruh ormas dan lembaga Islam mengawal aqidah kurban bencana," kata Din di hadapan peserta rapat koordinasi Dakwah dan Kegiatan Pasca Bencana Gempa Bumi di Aula Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta kemarin petang.

Selain Din Samsuddin, dalam rapat koordinasi tersebut tampak hadir Ketua Umum MUI DIY Drs HM Thoha Abudrrahman serta ormas dan lembaga Islam lainnya seperti HMI, KAMMI, MER C dan lain-lain.

Menurut Din, gerakan kristenisasi di Yogyakarta termasuk cukup besar, sehingga untuk menjaga kemungkinan terjadinya pemurtadan dikalangan korban gempa bumi, seluruh ormas dan lembaga Islam, selain memberikan bantuan logistik dan makanan, bersama-sama melakukan pengawalan aqidah. Termasuk melakukan pembinaan rohani terhadap anak-anak. Diingatkan bahwa dimana2 berkeliaran misionaris2 cina dan asing.

"Mereka itu memiliki logistik dan dana yang cukup, oleh karena itu mari kita bersama-sama mengawal aqidah mereka. Meski ini agak terlambat, kami mengajak seluruh ormas dan lembaga Islam untuk mengirimkan dai-dainya ke lokasi bencana," tandas Din. Pemurtadan terjadi terang2an.

Sunday, July 23, 2006

CEGAH PEMURTADAN




BANDUNG--Kasus pemurtadan disertai penganiyaan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Pendeta Elwin Kawilarang terhadap keluarga Warso, menjadi persoalan serius bagi Umat Muslim di Kota Bandung. Kasus tersebut akan dijadikan entry pointoleh seluruh ormas dan aktivis Islam dalam mencegah terjadinya kasus serupa. Ketua Badan Asistensi Tim Anti Pemurtadan Kota Bandung, Hari Nugraha, mengusulkan agar dibuat perjanjian seperti Piagam Madinah antara umat Muslim Kota Bandung dengan Umat Kristen. Perjanjian itu, diharapkan bisa mencegah pihak lain memurtadkan Umat Islam--misalnya gereja Injili Hok Im Tong yang paling gencar dalam program pemurtadan.

Menurut Hari, kasus pemurtadan yang dilakukan oleh Elwin pada keluarga Warso, merupakan pukulan bagi Umat Islam. Kasus tersebut, kata dia, merupakan salah satu kasus yang terangkat ke permukaan. Padahal, pemurtadan itu sudah lama terjadi di masyarakat. Pemurtadan tersebut, imbuh dia, dilakukan melalui berbagai bidang seperti ekonomi, kesehatan, dan sebagainya. Gereja2 Chinese membuat klinik, sekolah2, dan amal2 yang tujuannya untuk pemurtadan.

''Setelah mengadakan pertemuan dengan beberapa ormas Islam, misalnya Forum Ulama Umat Indonesia, Badan Anti Pemurtadan, dan sebagainya, kami sepakat akan menjadikan kasus pemurtadan yang dilakukan Elwin sebagai entry point. Kemenangan keluarga Warso pada kasus itu, berarti kemenangan kaum Muslim, demikian pula sebaliknya,'' katanya.

Hari mengatakan, untuk menghilangkan upaya pemurtadan di Kota Bandung, sudah saatnya dibuat perjanjian dengan kelompok Kristen. Bentuk perjanjian itu, kata dia, bisa dibuat seperti isi Piagam Madinah. Isinya, kata dia, umat Islam dan Kristen memiliki hak masing-masing, dan tidak boleh mempengaruhi seseorang yang sudah memeluk agama tertentu.

Sedangkan menurut anggota DPRD Kota Bandung dari Fraksi Keadilan Sejahtera, Tedy Rusmawan AT, pihaknya sangat prihatin dengan upaya pemurtadan yang dilakukan oknum dari agama tertentu. Kejadian itu, kata dia, harus dijadikan pelajaran bagi seluruh Umat Islam agar kasus serupa tidak terulang lagi.


Tuesday, July 04, 2006

PEMURTADAN ISLAM WASPADAI CINA



Waspadai Pemurtadan

Sekjen MUI pusat Prof Dr Din Samsuddin meminta kepada umat Islam melalui ormas dan lembaganya mewaspadi gerakan pemurtadan korban bencana gempa bumi yang terjadi di Jateng-DIY. Ia mensinyalir, kalangan agama tertentu sudah memulai bergerak dengan mendirikan posko-posko di lokasi bencana.

"Bahkan saya melihat sendiri, ada dua tenda khusus yang menampung anak-anak balita, saya tidak tahu apakah ada motif tertentu atau tidak, tetapi kita harus waspada karena saya yakin itu bukan lembaga Islam. Saya minta seluruh ormas dan lembaga Islam mengawal aqidah kurban bencana," kata Din di hadapan peserta rapat koordinasi Dakwah dan Kegiatan Pasca Bencana Gempa Bumi di Aula Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta kemarin petang.

Selain Din Samsuddin, dalam rapat koordinasi tersebut tampak hadir Ketua Umum MUI DIY Drs HM Thoha Abudrrahman serta ormas dan lembaga Islam lainnya seperti HMI, KAMMI, MER C dan lain-lain.

Menurut Din, gerakan kristenisasi di Yogyakarta termasuk cukup besar, sehingga untuk menjaga kemungkinan terjadinya pemurtadan dikalangan korban gempa bumi, seluruh ormas dan lembaga Islam, selain memberikan bantuan logistik dan makanan, bersama-sama melakukan pengawalan aqidah. Termasuk melakukan pembinaan rohani terhadap anak-anak.

"Mereka itu memiliki logistik dan dana yang cukup, oleh karena itu mari kita bersama-sama mengawal aqidah mereka. Meski ini agak terlambat, kami mengajak seluruh ormas dan lembaga Islam untuk mengirimkan dai-dainya ke lokasi bencana," tandas Din

Jelas Cina2 seperti Kalep Tong dan group Istana Bandung dan gereja Cina Hok Im Tong dan Stefan Tong dari Reformasi Injili Jakarta adalah otak gerakan ini. Gerakan pemurtadan ini memang didanai keuangan Cina yang pusatnya di jalan Junjunan 105 Bandung, Jabar. Mereka memakai pribumi sebagai pelaksana lapangan. Akal licik ini perlu diwaspadai.

Saturday, June 03, 2006

PENGHUJATAN NABI; CINA2 HUJAT NABI; SEMINARI REFORMED HINA NABI

Allah, subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surat al-Ahzab (33:57)

Dan bagi mereka yang menganiaya Allah dan RasulNya
Maka ketahuilah bahwa Allah mengutuk mereka di dunia dan akhirat.
Dia telah mempersiapkan hukuman yang memalukan bagi mereka.

Cina2 di sekolah2 pendeta selalu menghina nabi dengan alasan perbandingan agama (islamologi). Di seminari SAAT Malang pimpinan Daniel Lucas Lukito ini yg diamati. Mereka selalu menghujat nabi.

Inti dari persoalan ini adalah, bahwa kita –umat Muslim- mencintai Rasulullah, salallahu alayhi wa sallam. Bagi kita persoalan ini adalah persoalan cinta. Jutaan Muslim menyanyikan Qasidah Burdah Imam Al Busairi. Begitu juga, jutaan Muslim mendawamkan Dala’il Khayrat yang disusun oleh Shaykh Jazuli. Masih ada ribuan karya lain yang menyatakan rasa cinta dan syukur kita atas kehadiran beliau, yang disusun oleh ummat Muslim selama berabad-abad.

Mari kita telaah lagi Surat al-Ahzab. Ayat di awal menjadi dasar atas keputusan hukum yang menjadi perhatian kita adalah ayat yang menyatakan keutamaan, derajat yang tinggi atas kaum yang mencintai Rasulullah, salallahu alayhi wasallam. Kita dapat melihat bahwa Allah memberikan keistimewaan kepada ummat Muslim di atas gerombolan pemuja berhala jahiliyah yang menghina Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam, dan secara jelas kita lihat dalam ayat berikutnya, bahwa siapa saja yang menghina Rasulullah, salallahu alayhi wa salam juga merendahkan derajat ummat Muslim. Surat al-Ahzab (33:56-58):

Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi
Dan mintalah kedamaian dan keselamatan baginya.

Dan bagi mereka yang menganiaya Allah dan RasulNya,
Maka ketahuilah bahwa Allah mengutuk mereka di dunia dan akhirat.
Dia telah mempersiapkan hukuman yang memalukan bagi mereka.

Dan mereka yang menganiaya mu’min dan mu’minat,
padahal mereka tidak melakukan kesalahan apa pun,
maka sesungguhnya mereka telah memanggul kebohongan
dan kesalahan yang nyata.

Perbuatan-perbuatan menjengkelkan yang merupakan akibat dari insiden yang terjadi saat ini pada kenyataannya diawali oleh media yang dimiliki dan dijalankan oleh sekelompok orang Cina spt Stephen Tong dan rekannnya Daniel Lucas Lukito yang secara militan menentang ummat Muslim.

Ketetapan dari Shari’ah mengenai seseorang yang menghina atau merendahkan Rasul, QADI ‘IYAD IBN MUSA AL-YAHSUBI, salah seorang Fuqaha terkemuka dari Jalan Amal Ahli Madinah, yang merupakan ‘Umm al-Madhaib – Ibu dari Semua Madhaib (dan telah dinyatakan memiliki ketetapan hukum yang diutamakan atas semua Madhhab yang ada oleh Ibn Taymiyya dalam kitabnya), MENYATAKAN:

“Ketahuilah, barang siapa yang mengutuk Muhammad, salallahu alayhi wasallam, atau mempersalahkan beliau, atau mencari-cari kesalahan terhadap beliau, baik secara pribadi, keluarga dan keturunannya, deen beliau, atau semua sifat beliau, walaupun tidak secara langsung, dengan cara apa pun, baik itu dalam bentuk kutukan atau penghinaan atau merendahkan beliau atau merendahkan derajat beliau atau mencari-cari kesalahan beliau atau berbuat jahat terhadap beliau. Maka hukuman bagi orang yang melakukan hal-hal tersebut di atas sama dengan orang yang mengutuk beliau. Orang yang melakukan hal-hal tersebut akan dihukum mati, sebagai mana akan kami jelaskan. Keputusan hukum ini mencakup segala jenis penghinaan atau perendahaan. Kami tidak memiliki keraguan apapun mengenai persoalan ini, baik yang berupa pernyataan langsung maupun pengandaian."

"Kondisi yang sama berlaku bagi siapa saja yang menghina beliau, menggambarkan beliau, berniat untuk mencelakakan beliau, menyatakan suatu kondisi yang tidak sesuai kondisi beliau, atau membuat lelucon atas urusan penting beliau dengan menggunakan perkataan bodoh, sindiran, perkataan yang tidak disukai atau kebohongan, mencela beliau karena penderitaan maupun ujian yang beliau alami, atau merendahkan beliau karena beliau juga mengalami kondisi alami dan diperbolehkan bagi manusia. Semua ini merupakan kesepakatan dari para ‘ulama dan imam yang mengeluarkan fatwa, sejak masa Para Sahabat sampai dengan masa kini

Abu Bakr ibn al-Mundhir meriwayatkan bahwa para ulama setuju bahwa barang siapa yang menghina Rasul akan dihukum mati. Para ‘ulama tersebut adalah Malik ibn Anas, al-Layth, Ahmad ibn Hanbal dan Ishaq ibn Rahawayh, ini juga merupakan posisi yang diambil oleh Maddhab Syafi’i. Qadi Abu’l-Fadl menjelaskan bahwa keputusan ini dilandaskan kepada pernyataan Abu Bakr as-Siddiq. Taubat dari orang yang melakukan penghinaan tidak akan diterima. Pernyataan serupa juga diutarakan oleh Abu Hanifa dan pengikutnya, ath-Thawri dan para penduduk Kufa serta al-Awza’I Muslim”. […]

“Ibn al-Qasim berkata dalam kitab ‘Utbiyya, ‘Barang siapa yang mengutuk beliau, merendahkan beliau, mencari-cari kesalahan beliau atau merendahkan serta mempermainkan beliau, akan dihukum mati.’”

“Para Fuqaha di Andalusia mengeluarkan Fatwa agar Ibn Hatim, seorang ‘alim di Toledo, dihukum mati dan disalib karena ada bukti-bukti yang menyatakan bahwa Ibn Hatim mengecilkan Rasulullah, sallalahu alayhi wasallam, dia mengatakan bahwa beliau tidak bersungguh-sungguh dalam berzuhud, dan kalimat-kalimat lain yang sejenis”

"Para Fuqaha di Qayrawan (mesjid agung dan universitas Islam yang terletak di dekat Tunisia) dan para sahabat dari Sahnun mengeluarkan Fatwa untuk menghukum mati Ibrahim al-Ghazari, seorang penyair dan ahli dari berbagai disiplin ilmu. Ibrahim al-Ghazari adalah salah satu dari sekelompok orang yang mendatangi Qadi Abu’l-‘Abbas ibn Talib untuk berdebat. Dia didakwa telah melakukan beberapa hal seperti menghina Allah, RasulNya dan Rasul kami. Qadi Yahya ibn ‘Umar dan para fuqaha yang lain memanggilnya dan memerintahkan agar Ibrahim al-Ghazari dihukum mati dan disalib secara terbalik. Salah seorang ahli sejarah menceritakan bahwa ketika tiang dimana Ibrahim al-Ghazari diikat diangkat, tubuhnya pun diarahkan berlawanan dengan kiblat. Ini merupakan peringatan bagi semua dan orang-orang mengumandangkan Takbir. Setelah itu, seekor anjing datang dan menjilat darah Ibrahim al-Ghazari."

“Habib ibn Rabi’ al-Qarawi meriwayatkan bahwa Maddhab Malik beserta sahabatnya (maksudnya adalah Maddhab Ahli Madinah) menyatakan bahwa barang siapa yang menghina Rasul akan dihukum mati tanpa diizinkan untuk bertaubat”

“Kami telah meriwayatkan kesepakatannya. Adapun mengenai tradisinya, al-Husayn ibn ‘Ali meriwayatkan dari ayahnya bahwa Rasulullah bersabda mengenai hal ini, ‘Barang siapa yang menghina Rasul, maka berilah dia hukuman mati. Barang siapa menghina Para Sahabatku, maka pukullah dia.’ Riwayat ini dapat ditemukan di at-Tabarani dan ad-Daraqutni.”

“Dalam sebuah hadist shahih, Rasul memerintahkan agar Ka’b ibn al-Ashraf dihukum mati. Beliau bertanya, ‘Siapa yang akan mengurus Ka’b ibn al-Ashraf? Dia telah mencelakakan Allah dan RasulNya.’ Beliau mengirim seseorang untuk membunuh Ka’b tanpa memberikan kesempatan untuk bertaubat, sebuah keputusan yang membedakan dengan para musyrikun lainnya. Sebab dari kejadian ini adalah perlakuan Ka’b yang mencelakakan Nabi. Ini menunjukkan bahwa Rasul memerintahkan agar Ka’b dihukum mati karena telah melakukan hal lain selain syirik. Ka’b telah melakukan hal yang menyebabkan celaka.”

“Dalam hadist lainnya mengenai seseorang yang selalu menghina Rasul, Rasul berkata, ‘Siapa yang akan membelaku dari musuhku?’ Khalid menjawab,’Aku akan melakukannya,’ maka Rasul mengirimnya untuk membunuh orang tersebut.
Hukum Fiqh sangat jelas. Tidak ada perdebatan. Tidak boleh ada pendapat. Keputusannya adalah bahwa kaum kafirun harus menyadari bahwa kita ada, dan kita tidak akan memberikan toleransi apapun jika hal yang suci bagi kita dinodai. Kaum kafirun harus menyadari - mungkin jika mereka cerdas, mereka akan menyadari dengan terkejut – mereka tidak akan merasakan hal yang sama, karena mereka berada di luar lingkaran orang-orang yang mencintai Allah dan RasulNya, salallahu alayhi wasallam.

Allah subhanahu wata’ala, berfirman dalam Surat al-Kafirun (109:1-6):

Dengan menyebut nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Katakanlah: Hai orang-orang kafir!
Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah
Dan kamu tidak akan menyembah apa yang aku sembah
Dan aku tidak akan pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah
Dan kamu tidak akan pernah menjadi penyembah apa yang aku sembah.
Untukmulah deenmu, dan untukkulah deenku.

Alasan apapun untuk islamologi yang menghina nabi harus disetop.

Friday, May 26, 2006

PEMURTADAN OLEH CINA & PEMURTADAN KOMPREHENSIF

Membendung Arus Kristenisasi:[1]
(Upaya Antisipasi Gerakan Kristenisasi oleh Cina2 di Indonesia)

Indonesia sudah dijajah Cina. Dulu Belanda. Sekarang Cina. Sekolah2 pemurtadan Cina dirikan dimana2. Stefen Tong lakukan pemurtadan dimana2. Sekolah Madrasah Asia Tenggara di Jalan Arjuna 57 Malang adalah pusat pemurtadan. Selain menghadapi serangan sekularisme, pluralisme dan liberalisme, Indonesia juga menghadapi bahaya "Kristenisasi". Tidak bisa dinafikan bahwa umat Islam Indonesia sedang menghadapi ‘serangan akidah’ yang luar biasa.
Indonesia benar-benar mendapat ‘prioritas utama’ sebagai lahan ‘Injilisasi dunia’. Syeikh Muhammad al-Ghazali, dalam bukunya Shaihah at-Tahdzîr min Du‘ât at-Tanshîr, mengutip satu tulisan di koran ar-Râyah (Qatar) dengan judul: "مـــاذا فى إنـــدونيسيا..؟"
Artikel tersebut ditulis dalam bahasa Inggris oleh Ahmed Deedat yang dimuat dalam edisi X dalam koran al-Burhân pada tahun 1410 H/Juni 1990 M yang dikeluarkan oleh Pusat Dakwah Islam di Afrika Selatan. Artikel tersebut diterjemahkan oleh Dr. Darwisy Musthafa al-Fârr, direktur Museum Nasional di Qatar.[2]
Tulisan Ahmed Deedat di atas mengupas fenomena Kristenisasi yang terjadi di Indonesia. Salam satu pernyataan Deedat adalah, agama Katolik yang mencapai 5 milyar di Indonesia menganggap kunjungan Paulus ke Indonesia merupakan sebuah kesempatan besar untuk merayakan ‘Perkumpulan Gereja Indonesia‘ pada tanggal 31 September 1979. Dalam kesempatan itu, umat Kristen menandatangani satu kesepakatan: yang menggambarkan satu strategi yang ingin merubah Indonesia sampai tahun 2029 menjadi Kristen seluruhnya. Gerakan ini mereka sebut dengan ‘Amaliyah al-Isti'shâl (Operasi Pembasmian).[3]
Menurut Muhammad ‘Abd al-Halîm ‘Abd al-Fattâh, bukan rahasia bahwa negara terbesar berpenduduk muslim di dunia, Indonesia –190.000.000—lebih dari 90 % muslimin –sekarang ini menjadi sasaran ‘invasi Kristenisasi’....[4]
Dua pandangan di atas berasal dari luar (outsider) di atas, mengindikasikan bahwa Indonesia benar-benar dalam kondisi ‘bahaya’. Pandangan dari dalam (insider) tidak perlu disebutkan, karena sudah jelas dan konkret. Berbagai buku, koran, majalah, berita, dsb. sudah banyak yang berbicara tentang Kristenisasi. Bukankah itu merupakan bukti konkret dari gerakan Kristenisasi di sana?
Dalam bukunya Sejarah Gereja, seperti yang dikutip oleh Hussein Umar, Dr. Berkhof menggambarkan Indonesia sebagai berikut:
"Boleh kita simpulkan, bahwa Indonesia adalah suatu daerah Pekabaran Injil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit Firman Tuhan. Jumlah orang Kristen Protestan sudah 13 juta lebih, akan tetapi jangan kita lupa....di tengah-tengah 150 juta penduduk! Jadi tugas zending gereja-gereja muda di benua ini masih amat luas dan berat. Bukan saja sisa kaum kafir yang tidak seberapa banyak itu, yang perlu mendengar kabar kesukaan, tetapi juga kaum muslimin yang besar, yang merupakan benteng agama yang sukar sekali dikalahkan oleh pahlawan-pahlawan Injil. Apalagi bukan saja rakyat jelata, palisan bawah, yang harus ditaklukkan untuk Kristus, tetapi juga dan terutama para pemimpin masyarakat, kaum cendikiawan, golongan atas dan tengah."[5]
Itulah Indonesia dalam deskripsi Dr. Berkhof. Ia merupakan ‘sasaran empuk’ para Evanglist (‘Penginjil’): tempat ‘berjuang’ para pahlawan Injil dalam menanamkan Injil di tengah-tengah umat Islam. Misi Kristenisasi di Indonesi bukan hanya ‘isapan jempol’ belaka. Ia sudah berjalan sejak kedatangan Belanda.
Mengutip Encyclopaedie van Nederlandsche Indie I, hal. 67, Deliar Noer mencatat, sebagai pihak yang ingin berkuasa di Indonesia, ada dua pandangan yang dapat diungkapkan untuk melestarikan kekuasaan kolonial. Pertama, adalah "asosiasi", yakni bagaimana mengembangkan kebudayaan barat sehingga diterima sebagai kebudayaan rakyat Indonesia, walaupun tanpa mengesampingkan kebudayaan lokal sendiri. Tujuannya adalah untuk mengikat "jajahan itu lebih erat pada penjajah dengan menyediakan bagi penduduk jajahan itu manfaat-manfaat yang terkandung dalam kebudayaan asal (penduduk)".
Pandangan ini dipromosikan oleh Hurgronje, yang melalui karangannya, Nederland en de Islam, mengatakan, "Pemecahan masalah yang sebenarnya dan satu-satunya yang merupakan pemecahan tentang masalah Islam itu terletak pada asosiasi Islam (yang terdapat dalam jajahan Belanda) dengan orang-orang Belanda." Menurut Hurgronje, pada akhirnya, politik asosiasi itu akan memudahkan kerjaan misi Kristen.
Kedua, adalah "Kristenisasi", yakni bagaimana mengubah agama penduduk, yang Islam maupun yang bukan Islam, menjadi Kristen. Misi (Kristen) itu sendiri berpendapat bahwa bila pandangan pertama (asosiasi) tadi dapat dipenuhi, maka mereka sendiri pun "akan lebih dapat mengusahakan agar mereka lebih diterima penduduk yang dari segi kebudayaan itu telah berasimilasi". Sebaliknya, pertukaran agama penduduk menjadi Kristen, menguntungkan tanah air (negeri) Belanda pula oleh karena penduduk pribumi, yang mengenal eratnya hubungan agama dengan pemerintahan, setelah masuk Kristen akan menjadi warga-warga loyal lahir batin bagi kompeni, sebutan yang diberikan kepada administrasi Belanda itu.[6]
Masyarakat Misi Belanda (Dutch Mission Society) yang berdiri tahun 1847 memprioritaskan kerja missionaris ke Indonesia, karena negara yang masyarakatnya sangat bersahabat itu terbukti sulit "ditembus" misi Kristen. Faktor Islam dituding sebagai penyebab kesulitan masuknya misi Injil ke Indonesia. Hendrik Kraemer, seorang missionaris yang ditugaskan Masyarkat Al Kitab Belanda (Dutch Biblical Society) untuk bekerja di Indonesia tahun 1921, menggambarkan kesulitan mengkristenkan kaum muslim, melalui ungkapannya:
"Islam sebagai masalah misi: tidak ada agama yang untuk (mengkonversi)-nya misi harus membanting tulang dengan hasil yang minimal, dan untuk menghadapinya misi harus mengais-ngaiskan jemarinya hingga berdarah dan terluka, selain Islam. (Dia lanjutkan lagi) Yang menjadi dari Islam adalah: meskipun sebagai agama kandungannya sangat dangkal dan miskin, Islam melampaui semua agama di dunia dalam hal kekuasaan yang dimiliki, yang dengan itu agama tersebut mencengkeram erat semua yang memeluknya."
Samuel M. Zwemmer dalam bukunya The Law of Apostasy in Islam, memandang bahwa alasan terpenting sulitnya mengkonversi seorang muslim menjadi Kristen adalah adanya hukum murtad (riddah). Islam, katanya, adalah "seperti sebuah jebakan yang licik, mempermudah siapa saja yang masuk ke dalam persaudaraan kaum muslim, dan sangat sulit bagi siapa saja yang sudah menyatakan memeluknya untuk menemukan jalan keluar."[7]

Oleh sebab itu, upaya pengkristenan itu dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) memasukkan orang ke agama Kristen, dan (2) mengeluarkan orang Islam dari agamanya, walaupun dia menjadi atheis. ‘‘Tujuan kita tidak langsung mengkristenkan umat Islam, karena hal ini tidak akan sanggup kita laksanakan. Tetapi tujuan kita adalah menjauhkan kaum muslimin dari ajaran Islam. Ini yang harus kita capai walaupun mereka tidak bergabung dengan kita,’’ kata Zwemmer.[8]

Pusat2 seperti gereja2 Cina adalah basis pemurtadan yang kuat. Pusat di Jakarta adalah gereja2 Mangga Besar dengan Sekolah Amanat Agung di Greenvile. Ini partner Sekolah SAAT di Malang yang dipimpin Daniel Lucas Lukito. Ini kepanjangan tangan dari Stephen Tong (Jakarta). Sayap Cina2 ini menjangkau seluruh Indonesia.

Pesan Paulus untuk Kristenisasi Dunia
Paus John Paul II, merupakan Paulus yang cukup benci terhadap Islam. Dalam sebuah imbauan bertajuk: "POPE CALLS ON CATHOLICS TO SPREAD CHRISTIANITY", ia mengeluarkan fatwa gerejani agar kaum Katolik mengambil tindakan untuk menyerbarkan ajaran Katolik. Ia menegaskan pentingnya melakukan Kristenisasi terhadap semua bagian dunia (to evangelise in all parts of the world), termasuk negeri-negeri dimana hukum Islam melarang perpindahan agama.
Sri Paus menekankan agar negeri-negeri Islam, demikian juga negara-negara lainnya, segera mencabut peraturan-peraturan yang melarang orang Islam memeluk agama lain. Tanpa menyebut nama negara secara langsung, Sri Paus menyinggung negara-negara di kawasan Timur Tengah, Afrika dan Asia dimana para missionaris ditolak kehadirannya. Kepada mereka Paus menyerukan: "Bukalah pintu untuk Kristus!" (Open the doors to Christ!).[9]
Paulus beralasan bahwa gereja Katolik merupakan satu-satunya yang dapat memimpin seluruh bangsa. Hal ini ia sampaikan dalam sebuah imbauan Rasuli-nya yang berjudul ‘Tuhan Yesus’ yang dikeluarkan pada 6 Agustus 2000 ia menyatakan: "Universalitas Yesus merupakan sebuah kemestian dan hanya Gereja Katolik yang dapat memimpin seluruh bangsa."[10]
Oleh karena itu, dalam imbauan keenamnya untuk para uskup Perancis pada tanggal 7 Februari 2004, dia menyatakan: "Merupakan satu kewajiban bagi setiap jemaah keuskupan untuk melakukan misi Kristenisasi dengan Injil dan dengan berbagai rutinitas ritual dalam melayaninya – Kristenisasi."[11]
Peran politik yang dimainkan oleh Paus John Palulus II merupakan rahasia umum. Tidak seorangpun yang tidak mengetahui hal ini. Bahkan sebagian orang menggambarkannya sebagai ‘politik khusus Gereja Katolik’ yang perangkatnya adalah ‘‘Taktik Rasuli’’ yang diringkas oleh Paus dalam satu kata singkat: ‘La Reevangelisation du Monde’, (‘Rekristenisansi Dunia’). Inilah yang dia proklamirkan pada tahun 1982 di Camp Steel, di kota Shant Jacob, di Barat Laut Spanyol.[12]

Metode Kristenisasi, Harus Diwaspadai!
Bahaya yang sedang ‘merongrong’ umat Islam – di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia –memang masalah murtad ini. Berbagai aksi dan operasi Kristenisasi dilakukan di mana-mana. Umat Kristen sangat berambisi untuk ‘menyebarkan Injil’ kepada umat Islam. Umat Islam menurut mereka adalah ‘domba-domba yang hilang dan tersesat’, maka ia harus dicari dan dikembalikan kepada ‘kandangnya’: Kristen. Sehingga, untuk menangkap para ‘domba tersesat’ itu, mereka menggunakan dan menghalalkan segala cara. Prinsip mereka adalah al-ghâyah tubarrir al-wasîlah. Hemat penulis, umat Islam harus waspada dengan cara-cara Kristenisasi, agar tidak ‘terjebak’ dan ‘tertipu’. Sekarang, cara-cara mereka sangat ‘canggih dan berbahaya’. Mereka tidak lagi menggunakan iming-iming ‘satu bungkus Supermie atau satu kilo beras plus ikan asin dan minyak goreng’. Tidak! Cara mereka sekarang semakin canggih. Di bawah ini, penulis hanya memaparkan beberapa contoh secara ringkas dan sederhana. Diantara metode Kristenisasi itu adalah sebagai berikut:

1. Membangun Berbagai Proyek Kristenisasi;
Di Indonesia sendiri, proyek Kristenisasi sejak lama sudah berjalan secara diam-diam, seperti Yayasan Doulos. Lama-kelamaan, kedok yayasan yang bergerak dalam aksi Kristenisasi ini pun terbongkar. Karena penduduk merasa resah dengan aktivitasnya, akhirnya diserbu dan dihancurkan.[13]
Pada tataran dunia, organisasi Kristenisasi Dunia memiliki satu proyek yang disebut dengan Joshua Project 2000.
Joshua Project 2000[14] ini ditenggarai sebagai induk dari Doulos Project 2000, umat Islam wajib mewaspadainya. Doulos 2000 Project = 10 Missionary Project =
· The Jericho 2000 Project – West Java
· The Karapan 2000 (Race 2000) Project – East Java
· The Mandau 2000 Project – West Borneo
· The Bajau-Bungku 2000 Project – South East Celebes
· The Cendrawasih 200 (Bird of Paradise) Project– West New Guinea
· The Andalas 2000 Project – North Sumatra
· The Sriwijaya 2000 Project – Riau, Sumatera
· The Construction Project for House of Worship in the rural areas
· The Provision of Bibles Project –in the tribal language
· The Charity Activities Project.[15]
Berbagai proyek Kristenisasi di atas sudah banyak menampakkan hasil, seperti di Jawa Barat dan Padang.[16] Dengan demikian, proyek-proyek ini harus mendapat concern khusus dari para da‘i. Apalagi di pulau Sumatera ada dua proyek besar: The Andalas 2000 Project dan The Sriwijaya 2000 Project.
2. Mengobrak-abrik Kandungan Al-Qur’ân;
Cara ini sangat ampuh digunakan oleh para missionaris dan evangelist (penginjil). Hatta, di negara Arab sendiri, yang nota-bene berbahasa Arab, mereka menggunakan cara ini.[17] Kasus terakhir adalah apa yang dilakukan oleh Dr. Anis Shorrosh lewat Al-Qur’ân ‘palsunya’, The True Furqan (al-Furqân al-Haqq).[18] Itu dari segi pembuatan Al-Qur’ân. Dari sisi yang lain, berbagai bentuk ‘penyelewengan’ ayat-ayat Al-Qur’ân dan penafsirannya banyak juga dilakukan oleh umat Kristen. Saat ini, termasuk di Indonesia, istilah-istilah Al-Qur’ân dan teologi Islam sudah mulai disinkronkan dengan istilah-istilah Kristen, seperti Kalimah Allâh (‘Firman Allah’), Rûh Allâh (‘Roh Allah’)[19], tajassud, dsb. Tetapi, tujuan mereka adalah untuk mendukung ketuhanan Yesus Kristus. Menurut mereka, Al-Qur’ân sendiri menyebut Kristus Kalimah Allâh, Firman Allah dan ‘Roh-Nya’ (rûhun minhu). Tentu saja itu benar. Tetapi, konsep Kalimah (Firman) dalam Islam, berbeda dengan konsep Kristen. Dalam Islam, Kristus tercipta lewat Kalimah (Firman) Allah, ‘kun’, untuk menggambarkan satu kebesaran dan kekuasaan Allah. Juga, kata rûh dalam Islam, artinya: Yesus tercipta dari roh yang berasal dari Allah Swt. yang ditiupkan oleh malaikat Jibril ke dalam rahim Maryam.[20]
Upaya merusak kandungan Al-Qur’ân memang sudah lama dilakukan. Sebelumnya sudah dikenal nama Hamran Ambrie. Lewat bukunya "Allah Sudah Pilih Saya" ia berusaha menyelewengkan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’ân untuk mendukung dogma Kristen. Sebagai contoh, dalam bukunya tersebut, halaman 3 baris 9 dari atas mengatakan:
"Qul ya ahlal kitabi lastum ‘ala syai-in hatta tuqiemut taurate wal injil wa ma unzila ilaikum min rabbikum"
"Katakanlah! Hai Ahli Kitab, kamu tidak pada agama yang sebenarnya, kecuali apabila kamu turuti Turat dan Injil, dan apa yang diturunkan kepadamu daripada Tuhamu!"
Ayat ini, bukanlah untuk pertam kali itu saya baca, melainkan sudah ratusan kali. Tetapi pada kali terakhir itu, Allah telah membisikkan dalam roh –jiwa saya, bahwa yang dimaksud Taurat dan Injil dalam Qur'an itu, adalah Taurat-Injil yang ada terdapat dalam Alkitab atau Bibel sekarang.[21]
Proyek Amran Hambrie – setelah dia wafat – diteruskan kembali oleh para pengikutnya, seperti pendeta Rivai Burhanuddin dan yang lainnya. Pendeta Rivai Burhanuddin, dari gereja Advent dalam bukunya ‘Persahabatan Ummat Allah’ juga memutarbalikkan ayat-ayat Al-Qur’ân. Contohnya, dalam bukunya tersebut, halaman I, dia menyatakan:
"......kitab Perjanjian Baru membuktikan kebenaran kitab Perjanjian Lama dan Quran membuktikan kebenaran kitab Perjanjian Lama dan kitab Perjanjian Baru itu."[22]
Beberapa tahun terakhir juga muncul buku terjemahan Robert A. Morey yang mencoba mengacak-acak Al-Qur’ân. Lewat bukunya The Islamic Invasion[23] (Islam Yang Dihujat), Morey menulis tentang ‘Al-Qur’ân dan Kekerasan’. Ia menyatakan:
"Jangan sampai ada yang heran jika mengetahui agama Islam tidak saja mengesahkan dan mengabsahkan tindak kekerasan akan tetapi justru dalam keadaan tertentu malah memerintahkan tindak kekerasaan. Di dalam Al-Quran, Qs 9:5 kaum muslimin diperintahkan sebagai berikut:
"Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Dan apa yang harus dilakukan oleh kaum muslimin terhadap orang-orang yang menolak agama Islam? Kitab Al-Quran menyebutkan dalam QS 5:33 yang menyatakan:
"Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka, atau dibuang dari negeri mereka [tempat kediamannya]. Yang demikian itu [sebagai] suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akherat kelak mereka mendapat siksaan yang besar."
Di masyarakat Barat, hukuman-hukuman seperti memotong tangan dan kaki seseorang hanya gara-gara tidak mau menerima agama Islam, merupakan sesuatu yang tidak dapat dimengerti sama sekali."[24]
Ungkapan Morey menunjukkan kebodohannya tentang isi Al-Qur’ân. Surat at-Tawbah yang dikutipnya jelas tidak memiliki makna seperti yang diklaimnya. Begitu juga dengan surat al-Mâidah [5]: 33. Padahal, umat Islam memiliki buku-buku tafsir yang menjelaskan tentang ayat tersebut. Khusus ayat kedua, itu berkaitan dengan ayat tentang qatl al-murtadd (hukum bunuh bagi yang keluar dari agama Islam).[25] Dr. ‘ImâdAs-Sayyid asy-Syarbaeny menjelaskan bahwa ‘memerangi’ Allah dan Rasul-Nya itu dilakukan dengan dua cara: pertama, lewat tangan dan kedua, lewat lisan. Orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya ‘dengan lisan’ terkadang ditafsirkan sebagai orang yang memerangi dengan cara ‘memotong jalan’ –dalam merampas harat orang lain– ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunan-nya sebagai penafsiran dari sabda Nabi Saw.: at-Târiku lidînihî al-mufâriq li al-jamâ‘ah."[26]
Analogi Morey sangat ‘jauh panggang daripada api’ jika diplintir sampai ke Barat. Di Barat Islam tidak memaksa masyarakatnya untuk memeluk agama Islam. Apa yang diinginkan oleh Morey adalah merusak citra Islam. Seolah-olah Islam itu agama ‘Barbar’, hobi membunuh dan menyiksa orang.
Kedok ajaran palsu begini dijalankan di sekolah2 teologi Reformed oleh Stephen Tong. Juga ajaran pemurtandan Daniel Lucas Lukito lewan STT Amanat Agung dan STT SAAT jl Arjuna 57 Malang. Jaringan Cina ini teramat kuat. Daniel Lucas adalah pelopor pemurtadan besar2an ini.

3. Hipnotis dan Penyembuhan.
Modus operandi Kristenisasi lewat ‘hipnotis’ mungkin cara yang paling keji –di samping Germil dan pelaksanaan rutinitas ritual umat Islam[27]–, yang dilakukan oleh para penginjil dan missionaris. Ternyata, cara seperti ini telah dicanangkan sejak Konferensi Colorado, Amerika Serikat pada tahun 1987.[28]
Cara keji seperti ini ditujukan kepada para wanita Muslimah, agar mereka memeluk agama Kristen. Fenomena ini sekarang bukan hal yang aneh alias asing. Berbagai peristiwa menjadi bukti bahwa cara keji ini benar-benar dipraktekan secara nyata. Di Indonesia, tidak sedikit wanita Muslimah yang –tiba-tiba– kesurupan, sampai menyebut-nyebut nama ‘Yesus Kristus’. Padahal, itu merupakan kesengajaan yang dibuat oleh para Pendeta, Penginjil dan aktivis Kristenisasi untuk mengelabui umat Islam. Ketika itu terjadi, mereka menawarkan ‘terapi lewat nama Yesus’. "Jika dia ingin sembuh, dia harus menyebut nama Yesus, mengakui Yesus sebagai Tuhan." Karena, menurut para penginjil yang melakukan hal tersebut, Yesus mampu mengusir ‘roh jahat’.[29] Padahal itu merupakan tipu muslihat mereka. Itu merupakan cara mereka, agar umat Islam mengakui ‘ketuhanan Kristus’.
Fenomena yang lain, adalah apa yang dikenal dengan ‘Penyembuhan Atas Nama Yesus’. Fenomena ini sempat terjadi di beberapa daerah, seperti Jakarta dan Bandung.
Pengaruh pengobatan dengan cara demikian ternyata memiliki pengaruh yang sangat besar sekali. Sehingga, menurut Dr. Sanihu Munir, apapun yang dikatakan oleh Pastor, Pendeta dan penginjil seakan-akan semuanya bisa terjadi. Kegiatan penyembuhan ini merupakan salah satu otoritas Gereja yang berusaha untuk tetap dipertahankan, walaupun lama-kelamaan kebohongannya makin terungkap.
Ada dua faktor yang nampaknya sulit bagi Gereja saat ini untuk mempertahankan peranannya sebagai pemegang otoritas penyembuhan atas nama Yesus:
1) Penemuan Bakteri, virus dan jamur serta senyawa kimia/fisik sebagai penyebab penyakit membuat orang sadar bahwa penyakit-penyakit seperti malaria, kusta, dan keracunan kimia bukan urusan para Pastor, Pendeta ataupun penginjil untuk disembuhkan atas nama Yesus. Apalagi orang-orang yang buta karena penyakit kusta atau lumpuh karena penyakit polio. Walaupun disebut-sebut nama Yesus 7 hari 7 malam, mereka yang buta tidak akan melihat dan orang yang lumpuh tersebut tidak akan dapat berjalan. Bidang ini merupakan otoritas para dokter, dimana para Pastor, Pendeta dan penginjil tidak punya peran. Namun bagi orang-orang yang masih berpikir primitif, yang masih percaya kepada tahayul, masih mudah terpengaruh propaganda mereka.
2) Para ahli kedokteran jiwa sejak lama sudah mengungkapkan adanya hubungan antara jiwa seseorang dengan fisiknya. Dalam ilmu kedokteran dikenal istilah Psychophysiologic Disorder, yang oleh James C. Coleman, James N. Butcher dan Robert C. Carson, dalam buku merekai "Abnormal Psychology and Modern Life, 1984, didefinisikan sebagai "physical disorder in which psychological factors play major causative role". (Penyakit fisik, dimana faktor-faktor kejiwaan berperan sebagai penyebab utamanya.
Perananan kejiwaaan ini selanjutnya dijelaskan:
"An emotional upset may lower resistance to physical disease...the overall life situatuion of an individual has much to do with the onset of a disorder, it forms, duration and prognosis"
(Perasaan yang kalut dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit....situasi kehidupan seseorang secara keseluruhan sangat berkaitan erat dengan kejadian, jenis, lamanya maupun berkembangnya suatu penyakit).
Bagaimana langkah-langkah terjadinya penyakit fisik akibat gangguan psikologi diambarkan sebagai berikut:
a. Timbulnya kekalutan perasaan sebagai dampak dari situasi stres yang berlarut-larut;
b. Ketidakmampuan menanggulangi kekalutan perasaan ini;
c. Respon berbagai sistem orang tubuh terhadap gangguan perasaan yang berakibat rusaknya organ-organ tubuh tertentu, atau secara umum merobah dan melemahkan sistem pertahanan tubuh.[30]
Sudah dapat dipastikan bahwa penyakit kejiwaan seperti itu, tidak membutuhkan nama Yesus. Bahkan, penyakit seperti itu dapat disembuhkan sendiri oleh otak si penderita berkata kesabaran hati dan kesediaannya bekerjasama untuk sembuh. Proses penyembuhan seperti ini dijelaskan oleh Mark R. Rosenzweig dan Arnold L. Leiman dalam buku mereka Physicological Psychology, halaman 6-7:
"Various regins of the brain do indeed contain naturally produced chemical that are now called endorphine, short of "endogenous morphine". Such compounds can relieve pain and in some case the are more effective than morphine."
(Di berbagai lokasi dalam otak ternyata mengandung zat kimia yang dihasilkan secara alami yang saat ini disebut endorphine, singkatan dari "endogenous morphine". Senyawa ini dapat menghilangkan rasa sakit dan dalam beberapa hal jauh leibh kuat dari morphin).[31]
Ternyata para Pendeta, Pastor dan penginjil itu menipu masyarakat untuk melancarkan misi mereka.
Demikian pemaparan singkat seputar misi Kristenisasi ini, khususnya di Indonesia. Tentunya, pemaparan pemakalan masih sangat sederhana sekali. Sehingga masih membutuhkan tindak lanjut, agar lebih maksimal dan mendalam.
Arus Kristenisasi akan ‘semakin besar’ dan semakin membuat dakwah Islam di Tanah Air semakin berat. Bukan hanya Indonesia, dunia Islam secara keseluruhan sedangn menghadapi fenomena yang sama: Kristenisasi. Sebut saja, misalnya, Afrika, Sudan, Teluk (Gulf), dan yang lainnya.
Hemat penulis, umat Islam, khususnya di Indonesia, dapat membendung arus Kristenisasi ini lewat dua cara. Pertama, memperdalam ilmu-ilmu keislaman, terutama Tauhid, Al-Qur’ân, ‘Ulûm Al-Qur’ân dan dan tafsirnya, hadits dan ‘Ulûm al-Hadîts, dan Sirah Nabawiyah. Kedua, mempelajari kristologi secara intens dan mendalam, meskipun ia bukan fardhu ‘ain. Karena tidak dapat dipungkiri, pengetahuan terhadap dogma dan doktrin agama lain –khususnya Yahudi-Kristen–, dapat memberikan nilai plus bagi keyakinan agama sendiri. Karena, kebobrokan dan ketidakbenaran agama Yahudi-Kristen, hanya dapat diungkap secara komprehensif lewat kristologi. Selain itu, mendalami Kristologi, berarti umat Islam telah ‘mewarisi’ khazanah keilmuan para da‘i dan ulama salaf kita.[32] Wallâhu a‘lamu bi as-shawâb.
*) Qosim Nursheha Dzulhadi adalah peminat Quranic Studies and Christology.




[1] Disampaikan dalam Dialog Publik ‘‘Pengaruh Dakwah Islam dan Gejolak Kristenisasi di Pulau Sumatera’’, di Auditorium Shalih Abdullah Kamil, Cairo, pada hari Ahad, 9 April 2006.
[2] Syeikh Muhammad al-Ghazali, Shaihah at-Tahdzîr min Du‘ât at-Tanshîr, (Damaskus: Dâr al-Qalam, cet. I, 2000), hlm. 129.
[3] Ibid., hlm. 130.
[4] Muhammad ‘Abd al-Halîm ‘Abd al-Fattâh, Kalâmun fî al-Mamnû‘: al-Ikhtirâq al-Yahûdî li al-Vâtikân (Mosad – Vatikan – wa Tanshîr al-‘Âlam), Malaff Qâtim wa Taqârîr Saudâ', tanpa nama penerbit, cet. I, 2005), hlm. 159. Padahal, prosentasi yang sesungguhnya sangat memprihatinkan. Indonesia, memang dikenal sebagai negeri muslim terbesar di dunia, dengan jumlah penduduk sekitar 210 juta jiwa. Data Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) tahun 1990 yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS) menunjukkan prosentase umat beragama di Indonesia sebagai berikut: Islam (87,2%), Kristens Protestan (6,0%), Katolik (3,6%), Hindu (1,8%), Budha (1,0%), lain-lain (0,3%). Merujuk pada prosentase itu, maka jumlah umat Islam Indonesia saat kini mencapai 183,12 jiwa. Secara formal, tentu jumlah yang sangat besar.
Tetapi, pihak Kristen membantah angka yang dikeluarkan pemerintah itu. Sebuah buku berjudul "Gereja dan Reformasi" yang diterbitkan oleh Yayasan Komunikasi Masyarakat-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (Yakoma-PGI) menyebutkan bahwa jumlah orang Kristen (Protestan) di Indonesia adalah sekitar 20 persen, malah bisa lebih. Faktor meningkatnya jumlah Kristen itu terutama karena terjadinya pembaptisan-pembaptisan massal di berbagai tempat. (Victor Silaen dkk., Gereja dan Reformasi,Yakoma-PGI, Jakarta, 1999: 31-32). Data bahwa jumlah Kristen sudah lebih dari 20% ini juga diperkuat oleh Global Evangelization Movement Database, yang menyatakan, jumlah orang Kristen di Indonesia sudah mencapai angkat spektakuler, yaitu lebih dari 40 juta jiwa. Secara internasional, jumlah umat Kristen setiap tahun meningkat 6,9%, sehingga sekarang jumlahnya sudah mencapai 2 milyar jiwa lebih. (Majalah BAHANA, September 2002). Lihat, Adian Husaini, Solusi Damai Islam Kristen di Indonesia, (Surabaya: Pustaka Da‘i, cet. I, 2003), hlm. 30-31.
[5] Adian Husaini, ibid., hlm. 5.
[6] Ibid., hlm. 106.
[7] Ibid., hlm. 106-107. Hal ini mengindikasikan Zwemmer tidak memahami akidah Islam. Konsepsi akidah dalam Islam sangat kokoh dan tegas. Islam memang tidak ‘mudah‘ memberikan jalan bagi pemeluknya untuk keluar (murtad). Tetapi, Islam tidak serta-merta melaksanakan hukum bunuh (al-qatl) bagi para murtaddin. Karena yang berhak dibunuh adalah mereka yang meninggalkan jama‘ah (mufâriq li al-jamâ‘ah) sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits Ibnu Mas‘ud, Lâ yahillu damu imri'in muslimin yasyhadu ‘An lâ Ilâha ilâ Allâhu‘ wa ‘annî Rasûl Allâhi‘ illâ biihday tsalâtsin: an-nafsi bi an-nafsi, wa at-tsyayyibi az-zânî, wa at-târik li dînihî, al-mufâriq li al-jamâ‘ah." (HR. Jamâ‘ah). Konsep ini memang –terutama akhir-akhir ini—ingin dirusak oleh mereka yang di luar Islam dan Islam sendiri, seperti Islam Liberal. Mereka mengusung konsep ‘Pluralisme Agama‘ untuk memberi kebebasan kepada masing-masing orang memeluk agama apa saja yang mereka sukai. Bambang Noorsena, misalnya, menganggap ‘hukum bunuh‘ bagi murtaddin sebagai tindakan yang menyalahi tindakan Rasulullah Saw. Sayangnya, dia salah memberikan analogi. Dia bertanya, ‘Apakah tindakan ini cocok dengan sikap Nabi Muhammad sendiri terhadap ahl ad-dimmiy?‘. Bambang Noorsena –menyimpulakn seperti itu—karena melihat satu kasus yang terjadi di Pakistan, yang disebut dengan Qanun-i Shahadat (Hukum Pembuktian) tahun 1984: "Kesaksian seorang Kristen tidak diterima untuk menghukum orang Muslim, dan pembunuhan atas orang dzimmiy (kaum non-Muslim yang dilindungi pemerintah Islam) tidak boleh dibalas setimpal dengan hukuman mati, sebagaimana kasus yang sama yang terjadi atas diri seorang Muslim." (Bambang Noorsena, Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam, (Yogyakarta: Yayasan ANDI, cet. I, 2001), hlm. 92. Tentu saja kesimpulan Bambang tidak benar. Ini membuktikan dia tidak paham akan akidah Islam, terutama yang berhubungan dengan ‘sanksi murtad‘ (‘uqûbah ar-riddah). Isu yang terjadi di Pakistan adalah ‘kasus‘ tidak jelas tidak sejalan dengan ajaran Nabi Saw. Namun demikian, adalah keliru jika menyimpulkan bahwa tidak ada hukum yang tegas dari Nabi Saw. dalam masalah ar-riddah.
Bagi kaum Liberal, kebebasan beragama adalah hak setiap orang. Ironinya, yang selalu dimunculkan adalah hadits, ‘Man baddala dînahû faqtulûhu‘ (Hadits Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan oleh Jamâ‘ah, kecuali Imam Muslim). Hadits yang sama juga diriwayatkan dari Abu Hurairah dalam at-Thabrani dengan isnâd hasan, dan dari Mu‘âwiyah ibn Haydah dengan isnâd para rijalnya yang tsiqât. (Dikeluarkan oleh al-Haytsamî dalam Majma‘ az-Zawâ'id: 6/261). Lihat, Dr. Yusuf al-Qaradhawi, Jarîmah ar-Riddah wa ‘Uqûbah al-Murtadd fî Dhau' Al-Qur’ân wa as-Sunnah, dalam serial Rasâ'il Tarsyîd as-Shahwah (6), (Cairo: Maktabah Wahbah, cet. 1996), hlm. 48. Sehingga, kaum liberal ‘menuduh‘ hadits tersebut tidak relevan lagi, atau tidak kontekstual, tanpa melihat konsep ar-riddah dalam Islam dengan teliti. Mereka tidak melihat bahwa dalam Islam ada proses pemberian kesempatan untuk taubat bagi si murtad (istitâbah). Lebih jelas tentang hukum ar-riddah ini dapat dilihat: Dr. ‘Imâd as-Sayyid asy-Syarbaeny, ‘Uqûbatâ az-Zânî wa al-Murtadd fî Dhau' Al-Qur’ân wa as-Sunnah, (‘Agouzah-Mesir: Maktabah al-Imân, cet. I, 2005).
[8] Adian Husaini, op. cit., hlm. 99. Samuel Zwemmer memamang ‘missionaris dan dalang Kristenisasi terkenal di dunia Islam’. Ia merupakan salah seorang yang aktif melakukan kajian tentang agama Islam, guna merusak isi Al-Qur’ân dan ajaran Islam. Salah satu caranya adalah dengan mendirikan Jurnal Muslim World. Jurnal ini didirikan olehanya pada abad ke-20, hingga kini masih bertahan. Zwemmer juga menulis sebuah buku berjudul Islam: A Challange to Faith (terbit pertama kali tahun 1907). Di sini, Zwemmer memberikan resep untuk ‘‘menaklukkan’’ dunia Islam. Zwemmer menyebut bukunya sebagai ‘‘Studies on the Mohammedan religion and the needs and apportunities of the Mohammedan World from the Standpoint of Christian Missions’’. Dalam bukunya ini, Zwemmer menulis, unsur-unsur yang dipinjam oleh Islam dari berbagai agama dan tradisi sebelumnya, seperti Sabeanism, Arabian Idolatry, Zoroastrianism, Buddhism, Judaism, and Christianity, menurut Zwemmer adalah konsep puasa Ramadhan, cerita tentang Ashâbu al-Kahfi, Luqmân, Iskandar Zulkarnaen dan sebagainya. Tetnang Al-Qur’ân ini, Zwemmer menyatakan: (1) penuh dengan kesalahan sejarah; (2) banyak mengandung cerita fiktif yang tidak normal; (3) mengajarkan hal salah tentang kosmogoni; (4) mengabadikan perbudakan, poligami, perceraian, inteloransi keberagamaan, pengasingan dan degradasi wanita. Di akhir penjelasannya tentang Al-Qur’ân, Zwemmer mencatat, ‘‘In this respect the Koran is inferior to the sacred books of ancient Egypt, India, and China, thoug, unlike them, it is monotheistic. It can not be compared with the Old or the New Testament.’’ Lihat, Adian Husaini, Studi Awal Keragaman Teks Bibel, dalam Jurnal Al-Insan, (Depok-Indonesia: Lembaga Kajian dan Pengembangan Al-Insan (Kelompok Penerbit Gema Insani), Vol. I, No. I, Januari 2005), hlm. 115.
[9] Ibid., hlm. 5-6. Dokumen ini merupakan surat edaran pertama sejak tahun 1959 yang ditujukan untuk kegiatan missionaris dan yang menekankan pandangan yang demikian keras bahwa penyebaran ajaran Kristen merupakan satu diantara tugas terpenting setiap pemeluk ajaran Katolik. Surat edaran berjudul "Redemtori Missio" atau judul Inggrisnya "The Churches Missionary Mandate" (Mandat Missionaris Gereja) ini, merupakan surat edaran ke-8 yang telah dikeluarkan oleh Paus John Paulus II. Ibid.
[10] Prof. Dr. Zainab ‘Abd al-‘Aziz, Tanshîr al-‘Âlam: Munâqasyât li Khithâb Paus John Paulus II ‘Raw‘at al-Haqîqah’, dalam serial Shalîbiyah al-Gharb wa Hadhâratuhû (5), (Damaskus-Cairo: Dâr al-Kitâb al-‘Arabî, cet. I, 2004), hlm. 7.
[11] Ibid., hlm. 7-8.
[12] Prof. Dr. Zainab ‘Abd al-‘Aziz, al-Vâtikân wa al-Islâm, dalam serial Fadhâ'ih al-Hadhârah al-Gharbiyah (2), (Cairo: al-Quds li an-Nasyr wa al-I‘lân, cet. II, 2001), hlm. 19.
[13] Yayasan Doulos yang berada di Cipyung itu diserbu dan dihancurkan oleh kaum muslim pada tanggal 16 Desember 1999. Yayasan ini merupakan organisasi missionaris Kristen yang bertujuan memurtadkan 160 juta kaum muslim Indonesia. Adian Husaini, op. cit., hlm. 98.
[14] Tentang Proyek Joshua ini, Luis Bush (Direktur Internasional untuk AD2000 and Beyond Movement) memuat satu tulisan di http://www.missionfrontiers.org/1995/1112/nd953.htm dengan judul: What is Joshua Project 2000? Tulisan yang sangat panjang ini mengulasi misi penginjilan di seluruh penjuru dunia. Umat Islam sangat perlu mencermati gerakan Kristenisasi ini.
[15] Tentang penjelasn proyek-proyek Kristenisasi tersebut, dapat juga dilihat dalam http://www.geocities.com/nur_zayani/iskris.html
[16] Untuk laporan tentang Kristenisasi, juga dapat dilihat dalam berita yang diturunkan oleh www.eramuslim (23 September 2004) lewat tajuk ‘Misi Pemurtadan Yang Makin Berani’.
[17] Tahun 2004 yang lalu, seorang profesor ‘Teologi ad-Difâ‘ ‘an al-Imân’, Dr. Dawud Riyadh Arsânius menulis buku berjudul Mâ Hiya Hatmiyah Kaffârah al-Masîh? Buku ini banyak mengutip ayat-ayat Al-Qur’ân secara tendensius, untuk mendukung dogma Kristen. Contohnya, pada bab III, halaman 45, dia menyatakan tentang ‘Dalil-dalil Naqli’ tentang kematian Kristus. Ia mengutip ayat Al-Qur’ân dari surat al-Mâ’idah [5]: ‘Wa idz takhluqu min at-thîni kahay’ati at-thayr’. Dia tidak memuat kata ‘bi idzni Allâhi’. Sudah barang tentu ini salah fatal. Dia ingin menyatakan bahwa Yesus benar-benar ‘Tuhan’, yang mampu menciptakan burung dari tanah liat. Buku tersebut dibantah oleh Dr. Muhammad ‘Imarah lewat bukunya Munâqasyât Hâdifah: Radd al-Azhar ‘alâ Mâ Hiya Hatmiyah Kaffârah al-Masîh? Wa Taqrîr ‘an Arba‘i Rasâ’ila Jildiyah li Rasûl Allâhi (shallâ Allâhu ‘alayhi wa Sallama) yang dijadikan sebagai haidah majalah Al-Azhar pada bulan Rabiul Awwal 1426.
[18] Sebelum muncul The True Furqan, beberapa surat palsu sudah beredar, seperti surat Al-Wasaya, Al-Muslimun, Al-Tajassud, dan Al-Iman. Keempat surat tersebut sudah tersebar luas di kalangan umat Islam pada tahun 1999. Surat-surat batil tersebut pertama kali ditemukan di www.americaonline.com. Setelah itu, muncullah The True Furqan dalam bahasa Arab (‘‘al-Furqân al-Haqq’’) yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris di percetakan Wise Press, dengan ukuran 15 sm, 366 halaman dan memuat 77 surat. Penjelasan dan bantahan atas ‘Al-Qur’ân batil’ tersebut dapat dilihat dalam buku Al-Qur’ân wa al-Furqân al-Amrîkî: Dirâsah Naqdiyah limâ Yusammâ al-Furqân al-Amrîkî (terbitan Cairo: al-Hawârî li at-Turâts, 2005, pengantar dan tahqîq: Muhammad al-Hawârî) karya Sâlim Abu al-Futûh. Bahkan, dalam www.suralikeit.com beberapa surat pertama di atas sudah ada yang memiliki penafsiran.
[19] Penjelasan lebih lanjut tentang konsep Kalimah Allâh dan Ruh Allah dapat dilihat dalam Dr. Muhammad M. Abu Laylah, The Quran and The Gospels: A Comparative Study, (Cairo: Al-Falah for Translation, Publication & Distributin, cet. III, 2005).
[20] Umat Kristen tidak mau menerima penafsiran umat Islam yang seperti ini. Mereka malah menyatakan bahwa Kristus adalah tuhan. Di Indonesia, banyak sekali upaya seperti itu, seperti Bambang Noorsena. Pendiri KOS (Kristen Orthodoks Syiria) yang tidak mau disebut pendeta ini banyak sekali membuat tulisan yang menggunakan referensi turats Islam. Menyangkut penafsiran umat Islam tentang terman Kalimah Allah dan Roh Allah, Bambang – setelah mengutip surat Ali ‘Imrân: 39 dan 45 beserta penafsirannya – menyatakan, " Jadi, meskipun kristologi gereja yang menekankan bahwa Yesus adalah Firman Allah terdengar menggema dalam ayat-ayat al-Qur?an di atas, tetapi Islam tidak turut serta merta memindahkan makna teologisnya sebagaimana yang dipahami iman Kristen. Ungkapan 'bi kalimatin minhu' (dengan Firman dari-Nya), dalam sejumlah tafsir al-Qur'an tidak dipahami sebagai Firman kekal yang bersifat ghayr al-makhluq (bukan ciptaan), melainkan sebagai kalam takwiniyyah (kata penciptaan kun, 'Jadilah'). Meskipun demikian, berbeda dengan makhluk lainnya, ‘Isa diciptakan melalui Firman Allah secara langsung seperti Allah juga menciptakan Adam. Meskipun teologi Islam tidak ragu-ragu menolak keilahian Yesus, tetapi pada abad-abad kemudian gema dari perdebatan gereja mengenai kekal atau tidaknya Firman Allah itu dipentaskan kembali, dan diterapkan untuk memahami al-Qur?an sebagai Kalam Allah. Karena penekanan bahwa makhluk atau tidaknya Kalam Allah tersebut, maka selanjutnya teologi Islam lebih dikenal sebagai Ilmu Kalam, sebagaimana dikatakan oleh Syekh Muhammad ‘Abduh:
"Wa qad yusama ‘ilm al-kalami, anna lianna asyhara mas'alatin wa qa‘a fiha al-khilaafu baina ‘ulama'I al-quruni al-ula, hiya ‘anna kalam allah almatluwwa haditsu aw qadiim. Artinya: ‘Kadang-kadang disebut ilmu Kalam karena masalah yang paling masyhur dan banyak menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama-ulama Islam pada abad-abad pertama Hijrah, yaitu mengenai apakah Kalam Allah yang dibaca itu baru ataukah qadim (kekal). (Lihat tulisannya yang dimuat di www.iscs.or.id (7 Maret 2006) dengan judul ‘Sosok Yesus di mata santri Jawa: Selayang Pandang Mengenal Kitab Kuning’. Kutipannya tentang penamaan Ilmu Kalam Islam dari Syeikh Muhammad ‘Abduh juga ‘tidak jujur’ dan ‘tendensius’. Dalam bukunya Rislâlah at-Tawhîd – yang juga dikutip oleh Bambang – ‘Abduh tidak hanya menyebutkan satu sebab penamaan teologi dalam Islam dengan ‘Ilmu Kalam’, melainkan tiga sebab. Secara lengkap Syeikh Muhammad ‘Abduh menyatakan, "Wa qad yusamma ‘ilma al-kalam, immaa li'anna asyhara mas'alatin waqa‘a fiha al-khilâfu bayna ‘ulamâ' al-qurûn al-ûlâ hiya anna Kalâma Allâhi al-matluww hâditsun aw qadîmun; wa imma li'anna mabnâhu al-dalîl al-‘aqliy wa atsarahu yazharu min kulli mutakallimin fî kalâmihî. Wa qallamâ yarji‘u fîhi ilâ al-naql; allâhumma illâ ba‘da taqrîri al-ushûl al-awlâ, tsumma al-intiqâl minhâ ilâ mâ huwa asybaha bi al-far‘i ‘anhâ, wa inkâna ashlan limâ ya'thiy ba‘dahâ; wa immâ li'annahû fî bayâni thuruq al-istidlâl ‘alâ Ushûl al-dîn asybahu bi'l-mathiq fî tanbhîhi masâliki al-hujjah fî ‘ulûm ahl al-nazhar, wa abdala al-mathiq bi al-kalâm li al-tafriqah baynahuma." Lihat, Syeikh Muhammad ‘Abduh, Risâlah at-Tawhîd, (Beirut-Lebanon: Dâr Ibnu Hazm, cet. I, 2001), hlm. 63. Dalam bukunya Menuju Dialog Teologis Kristen Islam, misalnya, dia menulis tentang konsep ‘Nur Muhammad’ dalam Tasawur Islam dikomparasikan dengan konsep ‘Isa sebagai Terang Dunia’. Menurutnya, ‘Meskipun Muhammad telah ada sebelum penciptaan alam, tetap saja ia sebagai makhlûq (diciptakan). Berbeda dengan Yesus, ia sudah ada sebelum diciptakan (pra-eksistensi). Karena dia merupakan firman Allah yang kekal’. Lihat bukunya, Menujuk Dialog Teologis Kristen Islam, hlm. 61-68. Ia juga mengutip hadits Qudsi – padahal bukan hadits Qudsi – yang berbunyi, ‘Kuntu kanzan makhfiyan fa ahbabtu an u‘rafa fakhalaqtu al-khalqa fa bihi ‘arafuny (Aku adalah perbendaharaan terpendam. Aku rindu untuk dikenal, maka Kuciptakan dunia supaya Aku dikenal). Lihat, Menuju Dialog Teologis Kristen Islam, hlm. 66. Hadits yang menurutnya hadits Qudsi tersebut dia kutip dari buku Ahmad Daudi Allah dan Manusia dalam Konsepsi Syeikh Nuruddin ar-Raniry, hlm. 97. Tanpa telaah yang serius dan kritis, Bambang langsung menyimpulkan bahwa itu ‘hadits Qudsi’. Tentu saja ini sangat berbahaya bagi orang awam. Padahal, itu bukan hadits Qudsi, melainkan perkataan Sufiyah. Lihat, Dr. Muhammad ibn Muhammad Abu Syuhbah, al-Wadh‘u fî al-Hadîts, (Cairo: Maktabah al-`Ilm, cet. I, 2003), hlm. 15. Hadits yang senada dengan itu adalah, ‘Kuntu kanzan lâ u‘rafu! Fa'ahbabtu an u‘rafa fakhalaqtu khalqan fa‘araftuhum bî fabiyya ‘arafûnî’. Menurut Ibnu Taimiyah dalam Majmû‘ al-Fatâwâ: 18/122 dan setelahnya, seperti dikutip oleh Mahmoud ibn al-Jamîl, menyatakan: "Ini bukan perkatan Nabi Saw. Aku tidak tahu isnâd-nya baik shahîh maupun dha‘îf. Lihat, Mahmoud ibn al-Jamîl, Shahîh al-Ahâdîts al-Qudsiyah, (Cairo: Maktabah as-Shafâf, cet. I, 2001), hlm. 12. Untuk penjelasan prose penciptaan Adam dan Yesus – yang disebut dalam Al-Qur’ân ‘‘kamatsali Âdama’’ dapat dilihat dalam buku ‘The Story of Jesus, The Prophet of Peace & Uphon him be Peace (at-Tarjamah al-Injlîziyah li Mukhtashar Kitâb ‘Inna Matsali ‘Isa ‘inda Allâhi Kamatsali Âdama, min Âyah 59 min sûrah Âli ‘Imrân) karyaDr. Hassan Ezz Deen Al Gamal. Sayang sekali, buku ini tidak memiliki nama penerbit dan tahun terbit.
[21] Lihat, KH. Abdullah Wasi‘an, 100 Jawaban untuk Missionaris: Kristen Ataukah Islam?, (Surabaya: Pustaka Da‘i, cet. III, 2002), hlm. 25. Pernyataanya tersebut dibantah oleh KH. Abdullah Wasi‘an. Menurut beliau: "Turat dan Injil yang tersebut dalam surat al-Maidah 68 itu, bukanlah Taurat dan Injil yang terdapat dalam Alkitab (Bibel) sekarang ini, yang isinya: Perjanjian Lama terdiri dari 39 kitab, dan Perjanjian Baru yang berisi 27 buah, terdiri dari 4 Injil, 1 Kisah rasul, 14 surat kiriman Paulus, 1 surat kiriman Yakub, 2 surat kiriman Petrus, 3 surat kiriman Yohanes, 1 surat kiriman Yuda dan 1 kitab Wahyu. Yang dimaksud Taurat dan Injil pada ayat Alqur'an tersebut adalah firman Allah yang dibawa oleh malaikat Jibril dan disampaikan kepada Musa dan Yesus (nabi Isa as), berdasarkan keterangan dalam kitab Ulangan 33: 2. Ibid., hlm. 25-26.
[22] Statemennya tersebut dibantah oleh Ischaq A. Razak dengan mengutip Qs. Al-Baqarah [2]: 106 tentang ayat naskh. Menurut beliau, ‘‘Penuturan Al-Qur’ân tersebut di atas, sama sekali bukanlah merupakan isapan jempol belaka. Kita dapat menemukan kebenaran sinyalemennya paa kitab Perjanjian Lama. Marilah kita mengambil satu contoh saja, yaitu ayat 11 dan 15 dari kitab Kejadian seperti berikut ini:
"Maka kuadakan perjanjianKu dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusanhakn bumi." (Kejadian 9: 11)

"Aku akan mengingat perjanjianKu yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah." (Kejadian 9: 15).

Saudar pendeta Burhanuddin!!, memang untuk beberapa ribu tahun ayat-ayat Perjanjian Lama itu dapat menentramkan kalbu –perasaan manusia– dari amukan air bah, tetap ketika anak manusia Yesus ibnu Maryam diutus menjadi nabi untuk Bani Israil, ternyata telah menghapuskan kesaksian ayat-ayat Perjanjian Lama itu seperti kata beliau:

"Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu, makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak akan tahu sesuatu sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan anak manusia." (Matius 24: 37-39). Lihat, Ischaq A. Razak, Pendeta Berpendapat Ulama Meralat, (Surabaya: Pustaka Dai‘i, cet. I (edisi II), 2002), hlm. 54, 55-56.

[23] Buku ini pada mulanya berjudul Islam Unveiled, terbit pertama kali tahun 1946 dan kemudian diedit dan direvisi kembali dengan judul The Islamic Invasion dan diterbitkan pada tahun 1992 yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul The Islamic Invasion (ISLAM YANG DIHUJAT). Lihat, Robert A. Morey, The Islamic Invasion (Islam Yang Dihuhat), terjemah: Sadu Suud, (Bekasi-Indonesia: C.V. FOCUS ISLAMEDIA, cet. II, 2005), hlm. 12, dalam pengantar penerbit.
[24] Ibid., hlm. 233-235. Buku terjemahan ini sangat bagus sekali, karena penerjemahnya, Sadu Suud, memberikan ‘Catatan Pinggir’ yang sangat baik sekali. Dalam ‘catatannya’ tersebut, Sadu membongkar isi Bibel, menyangkut beberapa hal: (1) Yesus, (2) Paulus, (3) dan Alkitab. Selain itu, kata pengantarnya sangat bagus diberikan oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra MA. dan Hamid Famhy Zarkasyi, M. Phil. (Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Kuala Lumpur, Malaysia. Selain buku ini, Hj. Irena Handoni, dkk. juga telah memberikan counter yang sangat baik lewat buku ‘Islam Dihujat: Menjawab Buku The Islamic Invasion’, (Kudus: Bima Rodheta, 2004).
[25] Imam as-Suyûthî (849 H-911 H) menjelaskan bahwa bahwa Ibnu Jarir mengeluarkan –riwayat– dari Yazid ibn Abi Habîb bahwa ‘Abd al-Malik ibn Marwan menulis surat kepada Anas untuk menanyakan tentang ayat: ‘‘Innamâ jazâ’ulladzîn yuhâribûna Allâha wa Rasûlahû’’. Lalu Anas membalas suratnya dan memberitahukan bahwa ayat tersebut turun atas orang-orang ‘Iraniyin yang murtad dari Islam dan membunuh seorang gembala (ar-râ‘î) lalu mereka mengambil ontanya. (Hadits). Kemudian, Ibnu Jarir juga mengeluarkan riwayat semisalnya dari Jarir, dan ‘Abd ar-Razzâq mengeluarkan –dalam Mushannaf-nya: 10/107)– riwayat yang semisalnya dari Abu Hurairah. Lihat, Lubâb an-Nuqûl fî Asbâb an-Nuzûl, (Cairo: Maktabah al-Imân, cet. I, 2003), hlm. 115.
[26] Dari Ibnu Mas‘ud secara marfû‘: ‘Lâ yahillu damu Muslimin yasyhadu an lâ ilâha illâ Allâhu wa annî Rasûl Allâhi, illâ biihday tsalâtsin, at-tsayyibi az-zânî, wa an-nafsi bi an-nafsi, wa at-târiki lidînihî al-mufâriqi li al-jamâ‘ah." Dikeluarkan oleh Imam Muslim dengan syarh Imam an-Nawawi, kitâb al-Qasâmah, bâb ‘Mâ yubâhu bihî dam al-muslimi: 6/179, no: 1686 dan Imam Bukhari dengan syarh Fath al-Bârî, kitâb ad-Diyât, bâb qaulihî ta‘âlâ ‘inna an-nafsa bi an-nafsi’: 12/209, no: 6878. Lihat lebih lanjut, Dr. ‘Imâd as-Sayyid asy-Syarbaeny, ‘Uqûbatâ az-Zânî wa al-Murtadd fî Dhau' Al-Qur’ân wa as-Sunnah, (‘Aghouzah-Mesir: Maktabah al-Imân, cet. I, 2005), hlm. 109-110.
[27] Di Indonesia sekarang sudah ada gerakan Kristenisasi lewat gerakan yang disebut dengan Tilâwat al-Injîl. Bahkan, Institu Teolologi Kalimatullah, yang dipimpin oleh pendeta Lengkong, dalam acara resminya – seperti – wisuda para kadernya membacakan Injil dalam bahasa Arab, sambil ditartilkan layaknya umat Islam membaca Al-Qur’ân. Bagi umat Islam yang berada di kawasan negara Timur Tengah, misalnya, tidak akan terkejut mendengar saudara mereka yang beragama Kristen membacakan Injil mereka dalam bahasa Arab, karena bahasa agama mereka juga. Tetapi, jika fenomena tersebut muncul di Indonesia, kesannya akan menjadi lain. Meskipun demikian, penulis belum menemukan seorang Kristen di Mesir ini yang membaca Al-Qur’ân sambil ‘dilagukan’ seperti yang terjadi di Indonesia, selain acara resmi keagamaan mereka. Kehadiran KOS (Kristen Ortodoks Syiria) di Indonesia juga membuar resah umat Islam. Aliran Kristen yang dipelopori oleh Bambang Noorsena ini ternyata cukup aktif dalam melakukan kajian tentang Islam. Salah satu klaim mereka adalah, ‘Shalat Kami Tujuh Waktu’ dan ‘Injil Kami Berbahasa Arab, jadi kami juga bisa membaca Al-Qur’ân.’’
[28] Menurut Dr. Muhammad Imarah, mayoritas peserta konferensi Colorado itu adalah para pemimpin Zionis. Buku hasil konferensi tersebut berjudul The Gospel and Islam. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul ‘at-Tanshîr: Khuththah li Ghazwi al-‘Âlam al-Islâmî, yang mencapai 1.000 halaman. Lihat, Dr. Muhammad Imarah, Istirâtîjiyah at-Tanshîr fî al-‘Âlam al-Islâmî: Dirâsah fî A‘mâl Mu'tamar Colorado li Tanshîr al-Muslimîn aw Brûtukûlât Qasâwisah at-Tanshîr, dalam serial Buhûts at-Tsaqâfah wa al-Hadhârah (3), (Malta: Markaz Dirâsât al-‘Âlam al-Islâmî/Islamic World Studues Centre, cet. I, 1992), hlm.44. Tentang pengiriman ‘roh jahat’, anggota konferensi Colorado telah menyepakatinya sebagai satu metode Kristenisasi. Mereka menghindar dari – apa yang mereka sebut – Islam Al-Qur’ân dan Islam Sunnah. Sasaran mereka adalah ‘Islam sihir, Islam Ifrit, Islam roh jahat, yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan orang yang benar-benar mengerti akan ajaran Islam. Untuk model Islam terakhir ini, mereka mengambil contoh negara Indonesia. Para missionaris telah memanfaatkan – sebagaimana yang dikatakan oleh protokolat Colorado itu – toleransi "Soekarno" (13-19 – 1390 H/1901 – 1970 M) – presiden Indonesia – secara resmi dan pribadi. Mereka akhirnya menterjemahkan Injil ke dalam berbagai bahasa daerah yang ada di Indonesia. Para missionaris mampu membuat ‘‘satu negara’’ di dalam masyarakat Indonesia. Mereka mengakui keberhasilan Kristenisasi di Indonesia di daerah-daerah yang tidak Islami, dan para pengikut yang disebut dengan ‘Islam Kejawen’: yang cenderung malukan sinkretisme berbagai keyakinan, sebagai pengganti dari Islam yang lurus. Bahkan 63% yang menjadi Kristen adalah umat Islam KTP (hanya nama saja) dan yang memiliki latarbelakang ‘Jawa Animisme’. Ibid., hlm. 102 dan 103.
[29] Satu bulan yang lalu, penulis sempat ngobrol dengan teman dari Medan yang akhwatnya tiba-tiba kesurupan dan menyebut-nyebut nama Yesus. Anehnya, ketika di-ruqyah, dia sembuh. Tapi, ketika sang ustadz yang me-ruqyah tersebut pulang, dia kembali menyebut-nyebut nama Yesus Kristus. Benar-benar keji!!!
[30] Dr. H. Sanihu Munir, SKM, MPH., Menyelamatkan Juru Selamat: Mengapa Yesus Perlu Diselamatkan dan Mengungkap Kebohongan Penyembuhan Atas Nama Yesus, (Victory Press Surabaya Mitra Centre Kendari, cet. II, 2002), hlm. 99-101.
[31] Ibid., hlm. 102-103.
[32] Tidak dapat dipungkiri bahwa para ulama kita banyak yang memiliki concern khusus terhadap kristologi ini. Di antara mereka adalah: (1) Ibnu Hazm al-Andalusî (w. 456 H-1069 M) lewat bukunya al-Faysal fî al-Milal wa al-Ahwâ' wa an-Nihal, as-Syahrastânî (w. 548 H) lewat bukunya al-Milal wa an-Nihal, (3) Ibnu Taimiyah (661-728 H) lewat bukunya al-Jawâb as-Shahîh liman Baddala Dîn al-Masîh, (4) Ibnu Qayyim al-Jauziyah – murid Ibnu Taimiyah – (7 Shafar, 691 H/1292 M – 13 Rajab 751 H/1350 M) lewat bukunya Hidâyah al-Hiyârâ fî Ajwibah al-Yahûdi wa an-Nashârâ, (5) Hujjah al-Islâm Abu Hâmid al-Ghazali (w. 505 H/1111 M) lewat bukunya ar-Radd al-Jamîl li Ulûhiyah ‘Isâ bi Sharîh al-Injîl, (6) ‘Allâmah al-Hindi lewat bukunya Izhâr al-Haqq, (7) Syeikh Muhammad al-Ghazali lewat bukunya Shaihah at-Tahdzîr min Du‘at at-Tanshîr, dan (8) Ahmed Deedat (w. 2005) lewat berbagai tulisannya, kemudian sebagian besar beliau kumpulkan dalam bukunya The Choice: Islam and Christianity. Semoga mereka semua mendapat rahmat dan ampunan Allah ta‘ala, amin!

Thursday, May 25, 2006

CINA PEMURTADAN & BISNIS MAFIA KOTOR

CINA AHLI SEGALA MACAM KEBIADABAN. KELICIKAN MEREKA MENCAKUP SEGALA BIDANG.

POLDA METRO TANGKAP BANDAR BESAR NARKOBA ASAL CHINA

Jakarta--RRI-Online, Polda Metro Jaya berhasil menangkap seorang bandar besar narkoba warga negara China bernama Wong alias Ong alias Koh alias Peter alias Herman Chu di Hotel Limas, Palembang, 3 Mei 2006 pukul 08.00 WIB.

`Untuk menangkap Wong, Polda Metro dan Badan Narkotika Provinsi DKI membentuk tim khusus untuk mengejarnya,` kata Direktur Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Pol Carlo Brix Tewu di Jakarta, Jumat (19/5).

Ia mengatakan, untuk penangkapan Wong, polisi harus mempelajari informasi jaringan Wong ditambah dengan data base yang dimiliki hingga akhirnya mendapatkan informasi bahwa Wong ada di Palembang.

`Informasi keberadaan Wong diperoleh dari penangkapan Akuang, 2 Mei 2006 di Palembang dengan barang bukti 1,2 kg shabu. Akuang mengaku mendapatkan shabu dari Wong,` katanya.

Dalam penyidikan, Wong ternyata memiliki dua paspor yakni paspor China atas nama Kwang Fuk Sing dan paspor Indonesia atas nama Herman Chu.

`Wong mengaku pernah beberapa kali mengirim puluhan kilogram shabu dan ribuan ekstasi kepada tersangka Aling dan Ongki lewat jasa kurir,` kata Carlo.

Untuk mendapatkan shabu itu, Wong mengaku memesan kepada dua warga negara Hongkong bernama AT dan AS yang merupakan anggota sindikat penjualan shabu internasional dengan wilayah pemasaran Asia Tenggara.

Dalam menjual shabu di Indonesia, Wong dibantu oleh tangan kanannya diantaranya Aling yang tertangkap September 2005, Sulaiman Gunawan yang tertangkap Pebruari 2005 dan Andi Wijaya (tertangkap 8 Mei 2005).

`Wong pernah kerja sama dengan Benny Sudrajat dalam bisnis kapal di Hongkong namun uangnya dibawa kabur Benny,` katanya.

Benny telah tertangkap karena menjadi pemilik pabrik ekstasi di Cikande, Serang, 11 November 2005.

Dari hasil interogasi ini, Polda Metro Jaya menangkap Andi Wijaya karena selama ini setiap transaksi, Wong selalu menggunakan perantara Andi Wijaya.

Andi ditangkap 8 Mei 2006 di Perumahan Mediterania Kalideres Jakarta Barat bersama dengan Puspasari (isterinya), Herman Teja (kakak) dan Efendi (sopir).

Keterangan Andi juga menjadi bekal untuk menangkap Slamet, 8 Mei 2006 di Palem Lestari, Jakarta Barat karena Slamet telah memesan shabu kepada Andi.

Polisi lalu menemukan nama Jimy sebagai kawan Andi di Perumahan Taman Ratu, Jakarta Barat, 8 Mei 2006. Polisi menemukan barang bukti antara lain kantong plastik pembungkus shabu, serokan, timbangan dan sisa shabu 1 gram.

Dari keterangan Andi pula, polisi menemukan nama Aciang sebagai kurir narkoba di Tanjung Duren, Jakarta Barat, 13 Mei 2006 namun Acian gagal ditangkap karena sedang berada di China.

Dalam catatan Polda Metro Jaya, Wong menjadi pemasok 54 kg shabu dan 77 ribu ekstasi dengan tersangka Haryono dan Ricky Chandra. Keduanya ditangkap 11 Mei 2005.

Wong juga menjadi pemasok 1,2 kg shabu dengan tersangka Aling, yang tertangkap 10 September 2005. Aling mengaku sudah 7 kali memesan shabu dari Wong dengan jumlah total 26 kg.

Wong pula yang memasok 57 ribu butir ekstasi 27 Januari 2006 dengan tersangka Pony Chandra.

Tersangka Sulaiman yang tertangka 3 Desember 2005 juga pernah membeli 1,5 kg shabu dari Wong.

Wednesday, May 24, 2006

CINA DALANGI PEMURTADAN OLEH SEMINARI ALKITAB DANIEL LUCAS LUKITO

Cina dibalik pemurtadan bukan hal baru. Cina mendirikan madrasah Alkitab Asia Tenggara (SAAT) di Arjuna 57 Malang untuk itu. Madrasah Cina itu memakai alasan perbandingan agama untuk menghina nabi dan Quran.

Selain itu ada sekte Kanisali juga dengan misi pemurtadan.

Sebuah sekte kristen yang menamakan dirinya Kanisali (Kristen) Ortodoks Syiria (KOS) mulai terdengar di bumi nusantara Indonesia. Aliran yang satu ini memiliki banyak kemiripan ritual seperti dalam agama Islam. Mereka juga melakukan sholat seperti kita. Orang awam mungkin akan mudah terkecoh, namun jika kita jeli kita dapat melihat ketika mereka ruku’, tangan mereka melakukan gerakan-gerakan membentuk segitiga seperti yang biasa dilakukan umat nasrani ketika selesai berdo’a.

Sholat mereka pun juga menggunakan bahasa Arab, kadang imam atau jamaahnya mengenakan baju koko, gamis atau kopiah, sedangkan yang putri memakai jilbab plus pakaian panjang ke bawah hingga di bawah mata kaki. Jika umat Islam sholat sehari 5 kali, maka KOS sholatnya 7 kali sehari setiap 3 jam, masing-masing 2 raka’at. Yaitu sholat sa’atul awwal (shubuh), sa’atuts tsail (dhuha), sa’atu sadis (dhuhur), sa’atut tis’ah (ashar), sa’atul ghurub (maghrib), sa’atun naum (isya’), dan sa’atul lail (tengah malam).

Mereka juga mengklaim memiliki ibadah puasa dan zakat. KOS menyatakan bahwa puasa mereka adalah selama 40 hari berturut-turut yang disebut shaumil khabir yang dilaksanakan sekitar bulan April. Dan puasa “sunnah” mereka adalah Rabu-Jum’at (Puasa sunnah kaum muslimin adalah puasa senin-kamis). Sedangkan zakatnya orang-orang KOS adalah sebesar sepersepuluh (10%) dari pendapatan bruto atau pendapatan kotor (zakat dalam islam adalah 2,5%). Pengajian mereka pun dilaksanakan lesehan tidak di atas bangku

Aliran Kristen yang asalanya dari Syiria (Suriah) ini, diperkenalkan di Indonesia oleh Efram Bar Nabba Bambang Soorsena, seorang Syeikhul Injil (Syeikh adalah gelar yang diberikan Guru Besar Agama Islam) atau penginjil kewarganegraan Indonesia kelahiran Ponorogo.

KOS melakukan pengkanderaan dengan jalan kajian-kajian, misalnya melalui “Pusat Studi Agama dan Kebudayaan”, (Pustaka) di Malang. Ini pasti kerja sama dengan madrasah SAAT. Kini kajian tersebut sudah merambah ke Jakarta dan Surabaya. Di Jakarta kajian KOS rutin dilaksanakan sebulan sekali di Hotel Sahid Jaya yang diikuti sekitar 400-an orang, yang mayoritasnya adalah muslim. Sebelum kajian biasanya diawali dengan “Sholat” naum (mirip maghrib) dan dilanjutkan dengan “tilawatil Injil” berbahasa Arab

Selain itu mereka juga menerbitkan buku-buku yang berkedok Islam yang diterbitkan oleh penerbit yang memakai nama-nama Islam. Ada dua target penerbitan buku-buku berwajah Islam. Pertama target ke dalam, yaitu untuk meneguhkan ajaran mereka yang paling benar. Target kedua adalah untuk mengelabui ummat Islam untuk membaca dan meyakini ajaran dan dogma (doktrin) mereka.

Diantara buku-buku yang menyesatkan itu adalah :
1. Ayat-ayat Al-Qur’an yang menyelamatkan (Karya Drs. H. Amos alias Drs. A. Poernama Winangun, seorang murtadin).
2. Al-Maih Wal Masihiyun Fil Qur’an (Karya Drs. Amin Al-Barokah)
3. Selidikilah, Anda Pasti Selamat (Karya Sultan Muhammad Paul, Penerbit: Yayasan Jalan Al-Rachmat)
4. Kaligrafi dan Kalender Arab yang berisi Injil
5. dan masih banyak lagi

Bayangkan bila buku-buku ini dibaca oleh orang tua kita, adik kita, dan teman-teman kita yang masih awam!!

Pemurtada gaya ini lebih mudah menyerap massa, dikarenakan kurangnya ilmu dan pemahaman Muslim Indonesia terhadap ajaran agamanya, dan juga karena perpecahan di tubuh umat Islam sendiri yang saling menjatuhkan satu sama lain. Marilah kembali kepada Al-Qur’an dan Alh-Hadits, dan jagalah ukhuwah diantara kita. Umat Islam bukan anti toleransi maupun benci perdamaian tetapi anti Gerakan Pemurtadan!!

“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan suka kepada kamu sampai kamu mengikuti agama mereka” (Al-Baqoroh 120).